Bagaimana Menyikapi Pujian dan Hinaan
- 11 Feb 2026 06:00 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pujian dan hinaan dipandang sebagai salah satu bentuk ujian kehidupan, hal ini dikatakan ustadz Abdul Azis . S. Ag, kepada rri.co.id, Rabu (11/2/2026).
“Islam mengajarkan pujian dan hinaan dipandang sebagai salah satu bentuk ujian kehidupan yang bertujuan untuk menguji akhlak, keikhlasan, dan tingkat keimanan seseorang kepada Allah SWT. Baik dipuji maupun dihina, seorang Muslim diajarkan untuk tetap bersikap rendah hati, tenang, dan tidak terpengaruh secara berlebihan,” katanya.
Pembicara dari Yayasan Yatim kota Malang lebih lanjut menjelaskan bagaimana kita sebagai muslim menghadapi pujian dan hinaan yang ditujukan kepada kita.
“Sebagai seorang muslim kita harus bijak dalam mendapati pujian maupun hinaan karena dua hal ini pasti kita dapati. Jika kita mendapatkan pujian jangan kita berbesar hati (ujub), sombong, pamer (riya), kita harus sadari keberhasilan dan kelebihan kiata yang dipuji adalah titipan dan anugerah dari Allah, bukan semata-mata usaha diri sendiri. Ucapkan "Alhamdulillah" (Segala puji bagi Allah).Rasulullah mengajarkan doa saat dipuji: "Ya Allah, ampunilah aku dari apa yang mereka tidak ketahui (dari diriku), dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira" (HR. Bukhori).
Saat menerima pujian janganlah menjadi sombong atau merasa hebat. Hindari menikmati pujian berlebihan dan jadikan pujian sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri dan ibadah, bukan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya jika kita menerima hinaan, anggap sebagai sarana penghapus dosa dan tambahan pahala jika disikapi dengan benar, bersabar atas perlakuan buruk orang lain akan mendatangkan pahala yang tak terbatas. Dianjurkan untuk memaafkan orang yang menghina. Jika hinaan tersebut menyakitkan, cara terbaik adalah tidak membalasnya dengan keburukan serupa, diam, dan berpaling (mengabaikannya).
"Mendoakan agar orang yang menghina mendapatkan hidayah adalah tindakan yang sangat mulia dan yakinlah bahwa jika manusia merendahkan, Allah-lah yang berhak mengangkat derajat, bukan manusia.” Jelasnya.
Dalam penutupnya beliau kembali mengingatkan orang yang berakhlak baik akan menganggap pujian dan cacian hanyalah getaran udara yang merambat ke telinga. Ia tetap konsisten berbuat kebaikan, baik saat dipuji maupun dicaci. Sadari bahwa setiap orang memiliki kekurangan, sehingga hinaan wajar terjadi dalam hidup. Jangan sampai pujian membuat melambung (terbuai) dan hinaan membuat murung (putus asa). Dengan demikian, baik pujian maupun hinaan adalah ujian yang harus dilalui dengan tingkat kesabaran dan keikhlasan yang tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....