Sinkretisme Budaya di Tengah Arus Globalisasi

  • 11 Feb 2026 19:20 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Arus globalisasi yang semakin deras membawa dampak signifikan terhadap pola pikir individu maupun komunitas masyarakat. Akses mudah terhadap sains, teknologi, dan informasi global mendorong terjadinya pertemuan, penggabungan, hingga penciptaan nilai-nilai budaya baru yang dikenal sebagai sinkretisme.

Hal tersebut disampaikan pemerhati budaya, Ki Joko Setiyono, dalam dialog budaya Memayu Hayuning Budaya yang disiarkan pada Senin malam (9/2/2026). Menurutnya, sinkretisme merupakan proses alamiah ketika masyarakat berhadapan dengan perubahan zaman, namun tetap memerlukan kecerdikan dalam menyikapinya.

“Budaya itu hidup. Ia bisa beradaptasi, diadopsi sebagian, digabungkan, bahkan melahirkan bentuk baru. Tapi jika tidak disikapi dengan bijak, bisa berujung pada hilangnya akar budaya asli,” ujar Ki Joko.

Ia menjelaskan, dalam kehidupan modern saat ini masyarakat tidak lepas dari pengaruh berbagai ideologi, mulai dari warisan kepercayaan leluhur, agama, hingga ideologi global seperti liberalisme, komunisme, dan nasionalisme. Seluruh unsur tersebut secara tidak langsung membentuk pola pikir individu yang kemudian berkembang menjadi pola pikir kelompok dan bahkan ideologi komunitas.

“Setiap ideologi membawa nilai. Liberal menekankan kebebasan individu, komunisme berbicara kesetaraan, nasionalisme menekankan identitas bangsa. Ketika semuanya bertemu, di situlah sinkretisme terjadi,” jelasnya.

Ki Joko menambahkan, kehidupan manusia pada dasarnya bergerak dalam tiga arah, yakni hubungan vertikal dengan Tuhan, hubungan horizontal dengan sesama manusia, serta dorongan ke bawah berupa hasrat dan keinginan untuk terus berinovasi. Gesekan kerap muncul ketika ketiga sisi ini tidak seimbang.

Dalam konteks Indonesia, ia menilai Pancasila merupakan karya besar para pendiri bangsa yang berhasil merangkum keberagaman ideologi, keyakinan, dan budaya dalam satu kesatuan nilai.

“Pancasila itu final sebagai dasar, tapi penafsirannya bisa tumbuh dan berkembang mengikuti zaman. Ia menjadi titik temu, bukan alat pemisah,” tegasnya.

Sementara itu, agama disebutnya bersifat final dalam ajaran, namun amalan dan penerapannya tetap relevan sepanjang masa. Begitu pula dengan kepercayaan, yang menuntut nilai-nilai praktis untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui dialog ini, Ki Joko mengajak masyarakat untuk tetap terbuka terhadap perubahan, namun tidak kehilangan jati diri budaya. Menurutnya, memayu hayuning budaya dapat dimulai dari lingkungan terkecil, dengan menjaga nilai, sikap toleransi, serta kesadaran akan akar budaya bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....