Kemenag Kota Malang Perkuat Program Ekoteologi
- 10 Feb 2026 11:27 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang terus memperkuat komitmen reformasi birokrasi dan penguatan nilai keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Tahun 2026 ini, Kemenag Kota Malang berhasil meraih predikat Zona Integritas (ZI) sebagai wujud komitmen menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kota Malang, Yustina Lestari, S.Ag. dalam wawancara pada Selasa (10/2/2026). Menurutnya, predikat ZI menjadi penegasan komitmen seluruh jajaran Kemenag dalam memberikan pelayanan publik yang bersih, transparan, dan berkualitas.
“Kami di Kemenag Kota Malang diharapkan benar-benar bebas dari praktik korupsi. Dalam pelayanan, kami berupaya memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, sekaligus terus mengedepankan nilai moderasi beragama,” ujarnya.
Selain reformasi birokrasi, Kemenag juga memfokuskan perhatian pada penguatan ekoteologi, yakni pendekatan keagamaan yang mengintegrasikan nilai-nilai iman dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ekoteologi dipandang sebagai bentuk ibadah yang diwujudkan melalui aksi nyata menjaga kelestarian alam.
Yustina menjelaskan, ekoteologi Kemenag berangkat dari kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual manusia sebagai khalifah di bumi. Merawat alam dipandang sebagai wujud keimanan, sementara merusaknya merupakan dosa kolektif.
“Ekoteologi mengajak kita memahami bahwa hubungan manusia, Tuhan, dan alam harus harmonis. Kepedulian terhadap lingkungan tidak bisa dipisahkan dari pengamalan iman,” katanya.
Sebagai aksi nyata, Kemenag menggulirkan sejumlah program, salah satunya gerakan penanaman satu juta pohon matoa di berbagai daerah. Selain itu, kegiatan penghijauan, pengelolaan sampah, dan kampanye hidup ramah lingkungan juga terus digencarkan di lingkungan kerja Kemenag dan masyarakat.
Penguatan ekoteologi ini juga menyasar sekolah-sekolah dan generasi muda. Melalui kegiatan edukatif seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah, hingga integrasi isu lingkungan dalam pembelajaran keagamaan, Kemenag mendorong pelajar dan mahasiswa menjadi agen perubahan yang peduli terhadap kelestarian alam.
“Kami ingin menanamkan kesadaran sejak dini bahwa lingkungan bukan sekadar sumber daya, tetapi amanah Tuhan yang harus dijaga bersama,” tambahnya.
Yustina juga menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda dan masyarakat agar memaknai kepedulian lingkungan sebagai bagian dari iman. Dalam perspektif ekoteologi, manusia dipanggil bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai penjaga ciptaan.
“Langkah sederhana seperti mengurangi sampah plastik, menanam pohon, dan hidup hemat energi adalah wujud nyata iman dalam kehidupan sehari-hari. Iman tidak berhenti pada doa, tetapi diwujudkan dalam aksi menjaga bumi,” tuturnya.
Melalui penguatan ekoteologi dan moderasi beragama, Kemenag berharap dapat membentuk karakter masyarakat yang beriman, peduli lingkungan, dan berkontribusi menjaga keutuhan ciptaan demi masa depan generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....