Mendidik Anak dengan Tegas Tanpa Kekerasan

  • 27 Jan 2026 13:45 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID - Malang: Banyak orang tua masih keliru membedakan antara sikap tegas dan keras dalam mendidik anak. Padahal, keduanya memiliki dampak yang sangat berbeda terhadap perkembangan psikologis anak.

Dalam dialog Bersama RRI Malang, Abyz Wigati, S.Psi, konselor anak dan keluarga dari Harum Family Center Malang, membahas pola pengasuhan yang sehat dalam keluarga dengan fokus kepada cara mendidik dengan tegas tanpa kekerasan.

Menurut Abyz, kekerasan dalam bentuk apa pun—baik fisik maupun verbal—dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam pada anak. “Kekerasan itu sifatnya melukai dan sering muncul secara spontan saat orang tua sedang emosi. Entah itu lewat bentakan, pukulan, atau kata-kata yang menjatuhkan. Yang lebih berbahaya, anak justru bisa meniru perilaku itu dan mengulanginya ke orang lain,” jelasnya kepada RRI pada Selasa (27/1/2026).

Ia menegaskan bahwa memukul atau membentak anak dengan alasan sayang tetap tidak bisa dibenarkan. “Kalau kekerasan dibungkus dengan label ‘demi kebaikan’ atau ‘karena sayang’, lama-lama itu justru melegitimasi kekerasan. Anak belajar bahwa menyakiti orang lain itu wajar,” tambah Abyz.

Berbeda dengan kekerasan, sikap tegas justru dibutuhkan dalam mendidik anak. Namun, ketegasan tidak ditunjukkan dengan nada tinggi atau hukuman fisik. “Tegas itu bukan keras. Tegas itu mengandung konsekuensi, dilakukan dengan tenang, dan dipikirkan dulu. Kuncinya bukan di kata-kata, tapi di konsistensi orang tua,” ucapnya.

Abyz juga menyoroti peran ayah dan ibu dalam keluarga yang sering kali terjebak dalam pola lama. Ibu identik dengan lembut, sementara ayah identik dengan tegas namun sering disalahartikan menjadi keras. “Ayah tetap harus tegas, tapi anak juga harus merasa dekat dan aman. Jangan sampai ayah hanya dikenal sebagai sosok yang ditakuti. Dari ayah, anak seharusnya belajar wibawa dan tanggung jawab, bukan rasa takut,” ujarnya.

Lebih lanjut, Abyz mengingatkan bahwa anak yang terlalu dimudahkan hidupnya dan tidak diajari menghadapi konsekuensi berisiko tumbuh dengan mental yang rapuh. “Kalau anak tidak dibiasakan bertanggung jawab sejak kecil, ia akan kesulitan menghadapi kerasnya kehidupan ketika dewasa nanti. Ketegasan yang sehat justru sedang mempersiapkan anak menjadi pribadi yang kuat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....