Keimanan Diuji oleh Hal yang Tampak Sepele
- 05 Jun 2026 08:37 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap bahwa dosa besar selalu diawali oleh perbuatan besar. Padahal tidak selalu demikian. Ada kalanya sesuatu yang tampak kecil dan sepele justru menjadi penentu keselamatan seseorang di hadapan Allah SWT. Ustad Nur Cholis, SE diacara Cahyaning Ati Pro 4, Jum'at (5/6/2026) pagi, mengisahkan sebuah riwayat.
Sebuah kisah yang diriwayatkan dari sahabat mulia Salman Al-Farisi Radiyallahu'anhu memberikan pelajaran yang sangat mendalam tentang pentingnya menjaga tauhid dan bahaya syirik.
Dikisahkan ada dua orang pengelana yang sedang melakukan perjalanan jauh. Dalam perjalanan itu mereka melewati sebuah perkampungan yang memiliki aturan aneh. Di tengah jalan berdiri sebuah berhala besar yang disembah oleh penduduk setempat. Setiap orang yang hendak melintas diwajibkan memberikan persembahan kepada berhala tersebut. Tidak seorang pun diizinkan lewat sebelum memberikansesaji.
Ketika kedua pengelana itu tiba, para penjaga menghadang mereka.
“Berhenti! Kalian tidak boleh lewat sebelum memberikan persembahan kepada tuhan kami,” kata para penjaga.
Pengelana pertama terlihat gugup. Ia menjawab bahwa dirinya tidak membawa apa pun untuk dipersembahkan. Namun para penjaga tetap memaksa.
“Kalau begitu, persembahkan apa saja. Bahkan seekor lalat pun cukup,” ujar mereka.
Mendengar ancaman itu, pengelana pertama mulai bimbang. Ia takut jika menolak akan dibunuh. Dalam pikirannya, seekor lalat hanyalah sesuatu yang tidak berharga. Akhirnya ia menangkap seekor lalat yang beterbangan lalu berkata, “Baiklah, aku persembahkan lalat ini.” Para penjaga pun mengizinkannya lewat.
Bagi manusia, tindakan itu tampak sederhana. Hanya seekor lalat. Namun di sisi Allah, perbuatan tersebut sangat besar karena ia telah mempersembahkan sesuatu kepada selain Allah. Ia telah terjatuh dalam perbuatan syirik.
Kemudian tibalah giliran pengelana kedua.
Para penjaga kembali meminta persembahan. Namun dengan tegas ia menjawab, “Aku tidak akan mempersembahkan apa pun kepada selain Allah.” Mereka terusmemaksa. “Persembahkan seekor lalat saja!” Namun ia tetap menjawab, “Tidak. Aku tidak akan menyembah selain Allah.”
Para penjaga marah dan mengancam akan membunuhnya. Meski nyawanya berada di ujung tanduk, ia tetap teguh mempertahankan keyakinannya. “Allah adalah Rabbku. Hanya kepada-Nya aku beribadah,” katanya.Akhirnya ia dibunuh. Tubuhnya gugur, namun ia wafat dalam keadaan mempertahankan tauhid. Karena keteguhannya itu, Allah memuliakannya dengan surga.
Dari kisah ini kita belajar bahwa yang dinilai Allah bukanlah besar atau kecilnya benda yang dipersembahkan, melainkan kepada siapa persembahan itu ditujukan. Seekor lalat yang tidak bernilai di mata manusia ternyata menjadi pembeda antara surga dan neraka.
Allah SWT berfirman:"Sesungguhnya Allah tidakakan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. An-Nisa: 48)
Rasulullah juga bersabda ketika ditanya tentang dosa terbesar: "Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pelajaran pertama dari kisah ini adalah bahwa syirik merupakan dosa yang sangat besar. Jangan pernah meremehkan perbuatan yang dapat merusak akidah, meskipun terlihat kecil.
Pelajaran kedua, tauhid tidak bisa ditawar. Pengelana kedua rela kehilangan nyawanya demi mempertahankan keyakinannya kepada Allah. Sikap ini mengajarkan bahwa seorang mukmin harus berani mempertahankan kebenaran meskipun menghadapi tekanan.
Dalam kehidupan modern, keteguhan itu bisa terlihat pada seseorang yang menolak korupsi meskipun kehilangan jabatan, pedagang yang tidak mau bersumpah palsu walaupun dagangannya sepi, atau anak muda yang tetap menjaga shalat meski diejek teman - temannya.
Pelajaran ketiga, syirik sering datang secara perlahan melalui hal - hal yang dianggap ringan. Rasulullah bahkan mengingatkan umatnya tentang bahaya syirik kecil, seperti riya', yaitu beramal agar dipuji manusia. Saat ini, bentuk - bentuk ketergantungan kepada selain Allah masih dapat ditemukan. Ada yang meyakin ijimat sebagai penolak bala, percaya benda tertentu membawa keberuntungan, meminta perlindungan kepada makhluk gaib, atau melakukan sesaji dengan keyakinan dapat menghindarkan musibah.
Semua bentuk keyakinan tersebut harus ditimbang dengan Al-Qur'an dan Sunnah agar tidak menyeret seseorang kepada kesyirikan. Kisah dua pengelana ini mengingatkan bahwaujian keimanan tidak selalu datang dalam perkara besar. Terkadang justru hadir melalui hal - hal yang tampak sepele. Karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa menjaga kemurnian tauhid, meluruskan niat, memperbanyak doa, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT.
Semoga Allah menjaga hati kita dari segala bentuk syirik, baik yang besar maupun yang kecil, mengokohkan iman hingga akhir hayat, dan mewafatkan kita dalam keadaan bertauhid dengan kalimat : Laa ilaahaillallah, Muhammadur Rasulullah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....