Teknologi Pengolahan Sagu Percepat Pemarutan di Distrik Klamono, Papua Barat Daya
- 06 Okt 2026 15:11 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tim Universitas Brawijaya (UB) bersama kelompok mitra menerapkan teknologi tepat guna untuk mendukung pengolahan tepung sagu di Distrik Klamono, Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Kegiatan ini didanai oleh Kementerian Transmigrasi melalui Program Transmigrasi Patriot, dengan tujuan mempercepat pengolahan, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperkuat usaha masyarakat berbasis pangan lokal.
Keunggulan utama teknologi tersebut terletak pada percepatan penghancuran empulur batang sagu. Pekerjaan secara manual yang biasanya membutuhkan sekitar tujuh hari untuk satu pohon kini dapat diselesaikan dalam sekitar tiga jam menggunakan mesin parut. Perubahan ini meringankan pekerjaan masyarakat sekaligus membuka peluang peningkatan produksi tepung sagu.
Ketua tim UB, Yusron Sugiarto, menjelaskan bahwa penggunaan mesin menjawab kendala besarnya kebutuhan tenaga dan lamanya waktu pengolahan.
“Dengan cara manual, penghancuran empulur dari satu pohon sagu biasanya membutuhkan waktu sekitar tujuh hari. Menggunakan mesin ini, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar tiga jam. Percepatan ini sangat berarti karena mengurangi beban kerja dan memungkinkan kelompok mengolah lebih banyak sagu,” ujar Yusron kepada RRI, Selasa (6/10/2026).
Rangkaian peralatan pengolahan mencakup mesin parut sagu, mesin peras ulir atau screw press, bak pengendapan, serta unit pengering matahari yang dilengkapi kipas bertenaga panel surya. Peralatan tersebut mendukung tahapan pengolahan dari empulur batang hingga menjadi tepung sagu kering.
Mesin parut memperkecil ukuran empulur agar pati lebih mudah dipisahkan. Hasil parutan kemudian dicampur air dan diproses menggunakan mesin peras ulir untuk membantu memisahkan cairan pembawa pati dari ampas. Cairan tersebut ditampung dalam bak pengendapan hingga pati terkumpul di bagian dasar.
Pati basah selanjutnya dikeringkan pada rak dalam unit pengering yang memanfaatkan panas matahari. Panel surya memasok energi untuk menggerakkan kipas sehingga membantu sirkulasi udara selama pengeringan. Kebersihan peralatan dan penataan bahan menjadi bagian penting untuk menjaga mutu tepung yang dihasilkan.
Ketua kelompok mitra, Bu Sipora, menyampaikan bahwa teknologi ini membantu anggota kelompok mengatasi pekerjaan pengolahan sagu yang selama ini membutuhkan banyak tenaga.
“Selama ini mengolah sagu membutuhkan waktu lama dan tenaga yang besar. Dengan mesin ini, pekerjaan menjadi lebih ringan dan lebih cepat. Kami dapat melanjutkan proses pemerasan dan pengolahan tanpa terlalu lama menunggu pemarutan selesai. Ini sangat membantu kelompok kami,” ungkap Sipora.
Ia berharap kemudahan pengolahan dapat mendukung peningkatan produksi serta pengembangan usaha kelompok.
“Kami berharap bisa menghasilkan lebih banyak tepung sagu dengan kualitas yang baik dan memasarkannya lebih luas. Kami juga ingin anggota kelompok mampu mengoperasikan dan merawat mesin, supaya manfaatnya dapat terus dirasakan dan membantu penghasilan keluarga,” tambahnya.
Dari sisi pemerintah distrik, Kepala Distrik Klamono, Oktovianus Kolin, menekankan pentingnya teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun.
| Baca juga: Alsintan Modern Dongkrak Hasil Petani Muda |
“Sagu merupakan potensi penting masyarakat Klamono. Teknologi yang mempercepat pekerjaan seperti ini sangat dibutuhkan, karena masyarakat dapat mengolah hasil alamnya dengan lebih mudah. Kami berharap kegiatan ini membantu kelompok usaha meningkatkan produksi dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” ujar Oktovianus.
Ia juga menyoroti perlunya pengelolaan peralatan dan pendampingan secara berkelanjutan agar kemampuan produksi masyarakat terus berkembang.
“Dukungan Kementerian Transmigrasi melalui Program Transmigrasi Patriot dan pendampingan Universitas Brawijaya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkuat usaha pengolahan sagu. Harapannya, kelompok mampu mengelola peralatan bersama, menjaga kualitas produk, dan mengembangkan pemasaran tepung sagu dari Distrik Klamono,” tambahnya.
Yusron menjelaskan bahwa percepatan pemarutan merupakan langkah penting untuk meningkatkan kapasitas pengolahan. Agar manfaatnya terasa pada produksi tepung, tahapan pemerasan, pengendapan, pengeringan, dan pengemasan juga perlu berjalan dengan baik.
“Waktu yang sebelumnya banyak digunakan untuk menghancurkan empulur secara manual kini dapat dimanfaatkan untuk mengolah lebih banyak bahan dan mengembangkan usaha. Karena itu, pendampingan juga mencakup kebersihan produksi, keselamatan kerja, pemeliharaan alat, dan pencatatan hasil pengolahan,” jelasnya.
Perbaikan proses tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap produksi sagu di Distrik Klamono. Berkurangnya waktu dan beban kerja pada tahap pemarutan membuka peluang pengolahan bahan baku yang lebih banyak serta produksi yang lebih teratur. Pengembangan tepung sagu juga dapat mendukung usaha bagea dan berbagai pangan khas Papua, sehingga nilai tambah komoditas lokal semakin dirasakan oleh masyarakat Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun. (Kartika Dwi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....