Alsintan Modern Dongkrak Hasil Petani Muda

  • 18 Mei 2026 15:34 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Penggunaan alat dan mesin pertanian modern atau alsintan menjadi kebutuhan utama bagi petani muda dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Teknologi ini dinilai mampu mengubah cara kerja tradisional menjadi lebih efisien, cepat, dan menarik bagi generasi muda.

Jenis alsintan yang paling dibutuhkan saat ini meliputi traktor roda 4 dan rotavator untuk pengolahan lahan sebelum masa tanam. Kedua alat tersebut memiliki fungsi serupa, namun rotavator lebih unggul dalam kondisi lahan berlumpur dengan tingkat kedalaman tinggi.

“Rotavator dilengkapi roda berbentuk seperti tank yang memungkinkan alat tetap berjalan meskipun berada di lumpur yang dalam. Kalau traktor roda 4 sering mengalami kendala karena mudah terjebak ketika kondisi tanah terlalu lembek saat pengolahan berlangsung,” ujar Miftakhul Huda - Petani Milenial; Manager Brigade Pangan Abipraya Nawasena, Sabtu (16/05/2026).

Dalam tahap perawatan tanaman, petani muda kini mulai memanfaatkan drone untuk penyemprotan pestisida secara lebih efisien. Teknologi ini mampu menjangkau area luas dengan cepat sekaligus meningkatkan efektivitas pengendalian hama pada tanaman padi.

“Penggunaan drone memungkinkan penyemprotan 1 hektare lahan hanya dalam waktu sekitar 30 menit oleh 1 orang operator. Kalau metode manual membutuhkan 4 orang pekerja dan waktu hingga setengah hari untuk luas lahan yang sama. Efisiensi alsintan juga terlihat pada saat panen, di mana lahan seluas 3 hektare dapat diselesaikan hanya dalam waktu 2 hari. Sebaliknya, metode manual memerlukan waktu hingga setengah bulan sehingga menghambat produktivitas dan meningkatkan biaya tenaga kerja,” imbuhnya.

Modernisasi pertanian ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pemuda yang sebelumnya kurang tertarik pada sektor pertanian tradisional. Dengan pendekatan teknologi, pertanian kini dianggap lebih praktis dan selaras dengan perkembangan zaman yang serba digital.

Keterlibatan pemuda dalam organisasi seperti Gerakan Pemuda Ansor turut mendorong percepatan adopsi teknologi di sektor pertanian. Melalui kolaborasi ini, para petani muda tidak hanya bekerja tetapi juga belajar dan berkembang bersama dalam ekosistem pertanian modern.

Salah satu petani muda, Sodikin, mengaku awalnya bukan berasal dari latar belakang pertanian, namun tertarik setelah melihat potensi hasil yang menjanjikan. Dengan mengikuti pelatihan dari dinas dan penyuluh, ia berhasil mengelola lahan 3 hektare dan memperoleh hasil panen yang signifikan.

“Dari lahan tersebut, produksi padi mencapai sekitar 29 ton dalam 1 musim tanam selama 4 bulan.Jika dikonversikan secara ekonomi, hasil tersebut mampu menghasilkan pendapatan rata-rata 5–7 juta rupiah per bulan,” ujar Shodiqin - Petani Milenial Dusun Wonokasian Desa Pagedangan Turen Malang, pada kesempatan yang sama.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pertanian modern dengan dukungan alsintan dapat menjadi sektor yang menjanjikan bagi generasi muda. Dengan efisiensi waktu dan hasil yang optimal, pertanian berpotensi menjadi pilihan karier yang kompetitif di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....