Gung Endah Dorong Masyarakat Belajar Eco-Enzyme dari Sampah Organik

  • 08 Sep 2026 11:40 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Penggiat eco-enzyme asal Batu, Gung Endah Tuti Rahayu, mendorong masyarakat untuk tidak sekadar mengetahui manfaat eco-enzyme, tetapi juga mempraktikkan langsung cara pembuatannya. Menurutnya, praktik menjadi bagian penting agar edukasi pengolahan sampah organik dapat benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Gung Endah mengatakan, ketertarikan masyarakat terhadap eco-enzyme umumnya muncul setelah mereka mengetahui berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari hasil pengolahan limbah organik tersebut. Karena itu, dalam setiap kegiatan edukasi, ia tidak hanya menjelaskan persoalan lingkungan, tetapi juga berusaha menunjukkan manfaat eco-enzyme secara langsung kepada peserta.

“Banyak orang yang lebih tertarik belajar dan membuat eco-enzyme saat saya tunjukkan manfaatnya. Bahkan anak-anak muda juga sudah mulai tertarik dengan eco-enzyme ini,” ujar Gung Endah dalam sebuah talkshow.

Menurutnya, praktik langsung menjadi bagian penting dalam proses edukasi. Berdasarkan pengalamannya, masyarakat cenderung kesulitan membuat eco-enzyme secara mandiri apabila hanya mendapatkan penjelasan secara teori tanpa mencoba sendiri proses pembuatannya.

Prinsip tersebut juga diterapkan Gung Endah dalam berbagai kegiatan edukasi yang ia ikuti. Ia bahkan mengaku memilih tidak memenuhi undangan apabila tidak diberikan kesempatan untuk mengajak peserta melakukan praktik pembuatan eco-enzyme.

“Saya lebih memilih tidak datang kalau tidak diberikan kesempatan untuk praktik. Karena kalau hanya dijelaskan, belum tentu peserta bisa membuatnya sendiri setelah kegiatan selesai,” jelasnya.

Bagi masyarakat yang baru mulai belajar membuat eco-enzyme, Gung Endah menyarankan agar tidak sembarangan mengikuti berbagai tutorial yang beredar di internet. Menurutnya, terlalu banyak referensi justru berpotensi membuat pemula bingung karena terdapat perbedaan cara maupun takaran dalam proses pembuatannya.

“Jangan mencari di YouTube, di Instagram, di TikTok, jangan banyak-banyak. Kalau bisa ada mentornya,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menggunakan takaran yang tepat agar proses pembuatan eco-enzyme berjalan dengan baik. Formula yang digunakan Gung Endah terdiri atas satu bagian gula, tiga bagian kulit buah atau sayuran, dan sepuluh bagian air.

Selain melakukan edukasi secara langsung, Gung Endah kini aktif membagikan pengetahuan mengenai eco-enzyme melalui media sosial. Ia telah membuat ratusan video edukasi di YouTube dan mulai memperluas jangkauan edukasinya melalui Instagram.

Menurut Gung Endah, pemanfaatan media sosial menjadi salah satu cara untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda yang semakin akrab dengan platform digital.

Ia berharap edukasi mengenai eco-enzyme dapat mendorong lebih banyak masyarakat untuk mulai mengolah sampah organik dari rumah. Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai dari langkah besar, tetapi dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Kalau sampah organik bisa kita olah dari rumah, jumlah sampah yang dibuang ke TPA juga bisa berkurang. Yang penting masyarakat mau mulai dan konsisten melakukannya,” katanya.

Melalui gerakan edukasi tersebut, Gung Endah tidak hanya ingin memperkenalkan eco-enzyme sebagai produk yang memiliki beragam manfaat. Lebih dari itu, ia ingin membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat agar semakin peduli terhadap sampah, memanfaatkan limbah organik, dan mengambil bagian dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Bagi Gung Endah, mengolah sampah organik dari rumah merupakan langkah sederhana yang dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar. Semakin banyak keluarga yang mau mengolah sampahnya secara mandiri, semakin besar pula peluang untuk mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....