Siap Menikah Bukan Sekadar Siap Biaya, Mental dan Komunikasi Jadi Bekal
- 06 Sep 2026 13:12 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pernikahan bukan sekadar menyiapkan pesta dan berbagai kebutuhan seremoni, tetapi juga mempersiapkan kehidupan setelah akad berlangsung. Calon pasangan perlu memiliki kesiapan mental, pengetahuan, komunikasi, kemampuan mengelola konflik, serta kesepakatan mengenai kondisi ekonomi.
“Jadi ketika kita bicara marriage ready, itu bukan hanya siap secara finansial, tetapi juga siap secara mental.” kata Jihan Mawaddah, S.Pd., saat dikonfirmasi RRI pada Jumat (4/9/2026).
Perwakilan dari Biro Konsultasi Keluarga Sakinah PD Aisyiyah Kota Malang ini menyebut pernikahan menjadi fondasi penting bagi pembentukan generasi. Menurut Jihan, pasangan perlu menyadari bahwa setelah menikah akan muncul berbagai tanggung jawab yang sebelumnya belum tentu dihadapi bersama.
“Karena pernikahan itu sebenarnya adalah pondasi untuk generasi kita ke depan, orang tua itu kan menjadi sekolah pertama bagi anak," ujarnya.
Kesiapan mental menjadi salah satu bekal penting karena pasangan akan menghadapi perbedaan karakter, kebiasaan, maupun cara menyelesaikan persoalan. Ketidakmampuan mengelola emosi dapat membuat persoalan kecil berkembang menjadi konflik yang lebih besar dalam rumah tangga.
Jihan menilai kemampuan mengelola konflik perlu dipelajari sebelum pasangan memasuki kehidupan rumah tangga bersama. Konflik menurutnya merupakan hal yang wajar, sehingga persoalannya bukan menghindari konflik melainkan menemukan cara penyelesaian yang sehat.
“Yang penting sebenarnya bukan tidak ada konflik, tapi bagaimana kita menyelesaikan konflik itu," tegasnya.
Selain kesiapan mental, calon pasangan juga perlu membicarakan berbagai harapan sebelum memutuskan melanjutkan hubungan menuju pernikahan. Pembicaraan tersebut dapat mencakup persoalan keuangan, pekerjaan, pendidikan, tempat tinggal, rencana memiliki anak, hingga hubungan dengan keluarga besar.
Keselarasan nilai dan prioritas juga menjadi perhatian karena pasangan akan menjalani banyak keputusan bersama setelah menikah. Dalam konteks tersebut, Jihan menjelaskan konsep sekufu dapat dipahami sebagai adanya keselarasan atau kesepadanan dalam kehidupan pasangan.
“Sekufu itu tidak harus berarti semuanya sama, tapi ada kesepadanan, ada keselarasan, terutama dalam nilai dan tujuan kehidupan," katanya.
Persoalan ekonomi juga perlu dibicarakan secara terbuka karena kebutuhan rumah tangga akan terus berkembang setelah pasangan menikah. Menurut Jihan, kesiapan finansial penting, tetapi tidak berarti calon pasangan harus menunggu menjadi kaya terlebih dahulu sebelum menikah.
Jihan juga mengingatkan calon pasangan untuk mengenali dirinya sendiri sebelum berharap pasangannya mampu memahami seluruh kebutuhan dan keinginannya. Keterbukaan mengenai kebiasaan, karakter, kondisi keluarga, serta berbagai persoalan pribadi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.
Pengetahuan mengenai kehidupan pernikahan juga perlu terus ditingkatkan karena menjadi pasangan dan orang tua membutuhkan keterampilan yang tidak selalu diperoleh sebelumnya. Biro Konsultasi Keluarga Sakinah PD Aisyiyah Kota Malang mendorong calon maupun pasangan yang sudah menikah untuk tidak ragu mencari pengetahuan dan konsultasi.
“Menikah itu bukan selesai ketika akad, justru setelah akad kita akan terus belajar bagaimana menjadi pasangan dan menjadi orang tua," kata Jihan.
Melalui kesiapan mental, komunikasi, ekonomi, serta keselarasan nilai, pasangan diharapkan mampu membangun keluarga yang lebih sehat dan tangguh. Jihan menegaskan, kesiapan menikah sebaiknya menjadi proses bersama agar pasangan tidak hanya siap menjalani hari pernikahan, tetapi juga kehidupan sesudahnya.
“Jadi jangan hanya siap menikah, tapi kita juga harus siap menjalani kehidupan setelah menikah," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....