Mahasiswa UKM Ajak Masyarakat Hapus Stigma Disabilitas Netra

  • 07 Agt 2026 18:13 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Membangun masyarakat yang inklusif tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang terhadap penyandang disabilitas. Pesan tersebut disampaikan mahasiswa Program Kerja Sosial Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) saat berbagi pengalaman selama menjalani program magang di Kota Malang.

Selama melakukan observasi di Balai Rehabilitasi Sosial Bina Netra (RSBN), para mahasiswa melihat secara langsung kemampuan penyandang disabilitas netra dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pengalaman tersebut mengubah anggapan bahwa keterbatasan penglihatan menjadi penghalang untuk hidup mandiri dan berkarya.

Mahasiswa UKM menilai penyandang disabilitas netra memiliki banyak potensi yang sering kali tidak diketahui masyarakat. Mereka mampu mengembangkan kemampuan lain, mulai dari membaca huruf Braille, bermusik, bekerja, hingga menjalankan aktivitas secara mandiri.

"Bagi saya, tuna netra hanya tidak dapat melihat, tetapi kemampuan yang lain tetap ada. Mereka boleh berjalan, bekerja, mengingat dengan sangat baik, bahkan memiliki semangat yang luar biasa," kata mahasiswa UKM, Muhammad Taufik bin Ali pada RRI, Rabu (5/8/2026).

Menurut Taufik, stigma negatif masih muncul karena masyarakat belum memperoleh pemahaman yang cukup mengenai kemampuan penyandang disabilitas. Padahal, dukungan sosial akan jauh lebih berarti dibandingkan rasa iba yang berlebihan kepada mereka.

Ia menambahkan pekerja sosial memiliki tugas membangun kepercayaan dengan klien sebelum melakukan pendampingan. Proses tersebut membutuhkan kesabaran karena tidak semua orang siap menerima bantuan ketika pertama kali ditemui.

"Kalau mahu mengubah stigma, sokongan pertama harus datang daripada keluarga. Selepas itu barulah masyarakat lebih mudah menerima dan melihat kemampuan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas," ujar Julia Adriana binti Ahmad Noor Azman.

Julia menjelaskan keluarga menjadi lingkungan pertama yang menentukan rasa percaya diri seseorang penyandang disabilitas. Ketika keluarga mampu memberikan dukungan, proses pendampingan oleh pekerja sosial maupun penerimaan masyarakat akan berlangsung lebih baik.

Selain dukungan keluarga, ia juga menilai pentingnya penyediaan fasilitas umum yang ramah disabilitas. Infrastruktur seperti jalur khusus, transportasi, hingga ruang publik perlu dirancang agar dapat diakses secara aman dan nyaman oleh semua orang.

Mahasiswa UKM juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu menawarkan bantuan ketika bertemu penyandang disabilitas. Bentuk bantuan sederhana, seperti bertanya dengan sopan apakah seseorang membutuhkan pertolongan, dinilai sudah menjadi langkah awal membangun lingkungan yang lebih inklusif.

Melalui pengalaman belajar di Indonesia, keduanya berharap masyarakat semakin memahami bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar penerima bantuan, melainkan individu yang memiliki hak, kemampuan, dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial. Mereka meyakini perubahan cara pandang masyarakat akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kehidupan yang lebih setara dan berkeadilan bagi semua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....