Sapa Bumi Gerakan Pilah Sampah Mandiri

  • 10 Jun 2026 09:50 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Sapa Bumi merupakan singkatan dari Sahabat Pilah Sampah Bumi Meranti yang menjadi wadah komunitas peduli pengelolaan sisa konsumsi rumah tangga. Gerakan ini hadir sebagai upaya sederhana untuk membantu masyarakat yang ingin memilah sampah namun masih kesulitan dalam praktik sehari-hari.

“Komunitas ini dibentuk dengan mengumpulkan individu yang memiliki kesadaran serupa dalam menjaga lingkungan melalui kebiasaan memilah sampah dengan benar. Anggota yang tergabung tidak hanya belajar tetapi juga berkomitmen untuk menerapkan pengelolaan sampah secara konsisten di rumah masing-masing,” ungkap DK. Wardhani - Founder Kelas Belajar Zero Waste (BZW) dan Inisiator SapaBumi (Sahabat pilah sampah Bumi Meranti), Sabtu (06/06/2026).

Kegiatan pengumpulan sisa konsumsi dilakukan secara berkala dengan sistem penjadwalan yang kini berlangsung setiap dua bulan sekali di lokasi tertentu. Tempat pengumpulan berada di garasi rumah pendiri yang disulap menjadi ruang penyimpanan rapi dan terorganisir meski dengan kapasitas terbatas.

“Sebelum menjadi anggota, setiap peserta diberikan edukasi terkait cara memilah dan menyiapkan sampah agar sesuai dengan standar yang ditetapkan komunitas. Misalnya, botol plastik harus diremas, kardus dipipihkan, serta seluruh sisa konsumsi dibersihkan sebelum disetorkan untuk menjaga kebersihan. Sampah yang telah dipilah dapat disimpan dengan rapi tanpa menimbulkan bau atau gangguan lingkungan meskipun menunggu proses penjemputan oleh pengepul,” imbuhnya.

Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang benar tidak selalu identik dengan kondisi kotor atau menjijikkan di dalam rumah. Menariknya, sistem pengelolaan di Sapa Bumi juga menjadi objek pembelajaran bagi mahasiswa dan masyarakat yang ingin memahami praktik zero waste.

“Sapa Bumi mengelompokkan hingga 33 jenis sampah berbeda untuk memudahkan proses daur ulang dan pengolahan lanjutan. Kami juga menghindari penggunaan istilah sampah basah dan kering karena dianggap membingungkan masyarakat dalam memilah jenis limbah. Sebagai gantinya, edukasi difokuskan pada jenis material seperti plastik, kertas, kaca, dan lainnya agar lebih mudah dipahami,” ujarnya.

Melalui konsistensi anggota dalam memilah dan menyetor sampah dalam kondisi bersih, gerakan ini menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari rumah. Sapa Bumi menjadi contoh bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan bersama dapat menciptakan dampak besar bagi kelestarian lingkungan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....