Mahasiswa UKM Malaysia Pelajari Praktik Pekerja Sosial di Malang
- 07 Agt 2026 18:13 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Mahasiswa Program Kerja Sosial Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) memanfaatkan program magang internasional di Kota Malang untuk mempelajari praktik pelayanan sosial bagi penyandang disabilitas netra. Kegiatan tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman antara Indonesia dan Malaysia dalam memperkuat kompetensi calon pekerja sosial melalui pembelajaran langsung di lapangan.
Selama berada di Malang, para mahasiswa mengikuti kegiatan praktik di Balai Rehabilitasi Sosial Bina Netra (RSBN) serta pembelajaran akademik bersama mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pengalaman tersebut memperlihatkan perbedaan pendekatan, metode pendampingan, hingga penguatan regulasi profesi pekerja sosial yang telah berkembang lebih dahulu di Indonesia.
Program pertukaran itu juga membuka wawasan mengenai pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga rehabilitasi, dan pemerintah dalam membangun pelayanan sosial yang profesional. Selain mempelajari teori, mahasiswa diajak mengamati secara langsung proses asesmen, pendampingan, hingga pemberdayaan penyandang disabilitas netra.
"Kami belajar banyak perkara baharu di Indonesia, terutama mengenai kaedah pendampingan dan alat yang digunakan dalam praktik kerja sosial. Pengalaman ini sangat berharga kerana memberi gambaran yang lebih jelas tentang profesion pekerja sosial," kata mahasiswa UKM, Julia Adriana binti Ahmad Noor Azman, Rabu (5/8/2026).
Julia menjelaskan profesi pekerja sosial di Malaysia masih terus berkembang dan belum sepenuhnya dikenal luas oleh masyarakat. Karena itu, pengalaman belajar di Indonesia menjadi bekal penting untuk memahami praktik pekerjaan sosial yang lebih komprehensif.
Menurutnya, mahasiswa UKM juga memperoleh kesempatan mengikuti kegiatan praktikum bersama mahasiswa UMM sehingga dapat membandingkan pendekatan pembelajaran di kedua negara. Perbedaan tersebut bukan menjadi hambatan, melainkan kesempatan memperkaya perspektif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Di Malaysia praktik kerja sosial sebenarnya sudah lama berjalan, tetapi penguatan akta atau regulasi profesinya baru berkembang. Indonesia memiliki pengalaman yang lebih dahulu sehingga kami datang untuk belajar," ujar Muhammad Taufik bin Ali.
Taufik menilai pekerja sosial memiliki fungsi penting sebagai penghubung antara klien dengan berbagai layanan yang dibutuhkan. Mulai dari rumah sakit, lembaga kesejahteraan masyarakat, hingga bantuan sosial, seluruhnya memerlukan koordinasi agar kebutuhan klien dapat terpenuhi secara menyeluruh.
Ia juga melihat adanya banyak kesamaan antara Indonesia dan Malaysia dalam upaya memberikan perlindungan kepada kelompok rentan. Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki sistem kelembagaan yang lebih matang sehingga dapat menjadi referensi pengembangan profesi pekerja sosial di Malaysia.
Program magang internasional tersebut diharapkan tidak hanya mempererat hubungan akademik kedua negara, tetapi juga melahirkan pekerja sosial yang memiliki kemampuan lintas budaya. Bekal pengalaman lapangan itu diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan sosial sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan pendampingan profesional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....