Bijak Bermedia Sosial Penting agar Anak Berani Bercerita

  • 03 Agt 2026 07:47 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Media sosial dapat menjadi sarana mengekspresikan perasaan sekaligus ruang berbagi pengalaman bagi setiap orang, termasuk anak dan remaja. Namun, penggunaan platform digital tetap memerlukan kebijaksanaan agar ekspresi diri tidak justru memunculkan persoalan baru.

Hal tersebut disampaikan dalam Dialog Asta Cita RRI Malang bertajuk Membangun Generasi Tangguh Lewat Berani Bercerita. Narasumber Zenitha Kurnia Putri dan Diah AM mengingatkan bahwa media sosial bukanlah sesuatu yang harus disalahkan, melainkan perlu digunakan secara bertanggung jawab.

Zenitha mengatakan setiap orang berhak memilih media untuk menyalurkan emosi, termasuk melalui media sosial. Namun, pengguna juga harus memahami konsekuensi ketika memutuskan membagikan cerita kepada publik.

"Kalau memang itu privasi, jangan dipublikasikan untuk semua orang. Ketika kita memilih ruang publik, kita juga harus siap menerima komentar dari orang lain," ujar Zenitha pada Sabtu (1/8/2026).

Menurutnya, media sosial pada dasarnya dapat menjadi tempat melepas beban pikiran layaknya buku harian digital. Meski demikian, pengguna perlu mampu membedakan mana persoalan yang layak dikonsumsi publik dan mana yang sebaiknya hanya dibagikan kepada orang-orang terdekat.

Diah AM menambahkan perkembangan teknologi membuat kemampuan membangun batasan atau boundaries menjadi semakin penting. Tidak hanya dalam kehidupan nyata, kemampuan tersebut juga harus diterapkan ketika berinteraksi di ruang digital.

"Di media sosial kita sangat membutuhkan boundaries. Kita harus menentukan mana yang untuk konsumsi publik dan mana yang cukup menjadi konsumsi pribadi," katanya.

Ia menjelaskan banyak anak kini memilih memiliki akun kedua atau second account sebagai ruang yang lebih privat untuk mengekspresikan diri. Cara tersebut dinilai lebih aman selama tetap digunakan secara bijaksana dan tidak merugikan orang lain.

Selain itu, Diah menilai generasi muda saat ini cenderung lebih kritis dan membutuhkan penjelasan yang logis dibanding sekadar larangan. Karena itu, edukasi mengenai etika bermedia sosial perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai karakter setiap generasi.

Zenitha juga mengingatkan bahwa lingkungan terdekat, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku digital anak. Pendekatan yang mengedepankan dialog dinilai lebih efektif dibanding hanya memberikan hukuman atau larangan.

Menurutnya, orang dewasa juga perlu terus belajar memahami perubahan zaman agar tidak memaksakan pola komunikasi lama kepada generasi sekarang. Kompromi antargenerasi menjadi kunci agar anak tetap merasa didengar sekaligus mampu menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Melalui pemahaman tersebut, media sosial diharapkan tidak menjadi sumber konflik maupun ruang saling menghakimi. Sebaliknya, platform digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana berekspresi yang sehat sekaligus mendukung terbentuknya generasi yang lebih terbuka, bijak, dan tangguh menghadapi perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....