Pendidikan Inklusif Wujudkan Kesempatan Setara Bagi Anak Difabel Indonesia
- 22 Jul 2026 14:52 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Upaya mewujudkan Indonesia Emas menempatkan pendidikan inklusif sebagai salah satu aspek penting dalam menciptakan masyarakat yang setara. Namun, praktik di lapangan masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari perundungan hingga minimnya penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam dialog interaktif RRI Malang Official bertajuk Pendidikan Inklusif Mewujudkan Mimpi Anak Difabel untuk Masa Depan yang disiarkan pada Senin (20/7/2026). Dialog menghadirkan narasumber Suti Indrawati, orang tua dari anak penyandang Down Syndrome, yang membagikan pengalaman mendampingi putranya, Agam.
Suti menceritakan bahwa Agam sempat mengenyam pendidikan di sekolah inklusi. Namun, pengalaman perundungan yang dialaminya membuat Agam mengalami trauma hingga akhirnya melanjutkan pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).
"Agam sempat bersekolah di sekolah inklusi, tetapi mengalami perundungan hingga akhirnya merasa trauma. Setelah itu kami memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di SLB agar ia bisa belajar dengan lebih nyaman," ujar Suti.
Meski demikian, Suti menegaskan bahwa anak penyandang disabilitas memiliki potensi yang sama untuk berkembang apabila mendapatkan kesempatan dan dukungan yang memadai. Menurutnya, Agam memiliki kemampuan di berbagai bidang, seperti menari, bermain musik, hingga membatik.
"Agam memiliki banyak potensi seperti menari, musik, dan membatik. Kalau diberi kesempatan, anak-anak difabel juga bisa berkembang seperti anak lainnya," ungkapnya.
Selain mengembangkan bakat, Suti juga mengajarkan putranya untuk mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dengan pendampingan yang tepat, Agam mampu belajar berbelanja sendiri, mengenali nilai uang, hingga melakukan berbagai kegiatan sederhana secara mandiri.
"Anak difabel juga bisa belajar mandiri, seperti berbelanja dan mengenal nilai uang. Yang terpenting adalah kesabaran, pendampingan, dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar," jelasnya.
Dalam dialog tersebut, para narasumber menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan yang menerima keberagaman tanpa diskriminasi.
Mereka berharap masyarakat semakin terbuka dalam memandang anak penyandang disabilitas sebagai individu yang memiliki kemampuan, potensi, serta hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan berkembang.
"Kami berharap tidak ada lagi stigma terhadap anak difabel. Mereka bukan anak yang harus dikasihani, tetapi anak-anak yang memiliki potensi dan berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan," pungkas Suti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....