Disiplin Anak Tidak Harus Dibangun dengan Bentakan dan Hukuman

  • 26 Jun 2026 09:44 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang: Mendidik anak agar disiplin tidak selalu harus dilakukan dengan bentakan, ancaman, maupun hukuman. Justru, pola pengasuhan yang hangat namun tetap tegas dinilai lebih efektif dalam membantu anak memahami tanggung jawab dan mengembangkan pengendalian diri sejak dini. Hal tersebut disampaikan Dokter Parenting sekaligus Direktur Rumah Cerdas Malang, dr. Martina Slyviarini Surya Widarti, kepada RRI Malang pada Rabu (24/6/2026).

Menurut dr. Vivi, pendekatan pengasuhan perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Pada usia 0 hingga 7 tahun, anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan pendampingan penuh dari orang tua. Pada fase ini, anak tidak seharusnya menjadi sasaran kemarahan atau tekanan yang berlebihan karena sedang membangun rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungan sekitarnya.

Memasuki usia 7 hingga 14 tahun, orang tua mulai dapat melatih kemandirian dan tanggung jawab anak melalui berbagai keterampilan hidup atau life skill. Mulai dari mencuci pakaian, menyetrika, menata kamar, hingga membantu pekerjaan rumah sederhana. Menurutnya, masa ini menjadi periode penting untuk mengajarkan anak mengelola dirinya sendiri.

“Tujuan disiplin pada usia 7 sampai 14 tahun adalah agar anak mampu mengendalikan dirinya. Karena itu yang dibutuhkan bukan bentakan, melainkan aturan yang disepakati bersama dan dijalankan secara konsisten,” ujar dr. Vivi.

Ia menambahkan, orang tua perlu membuat kesepakatan yang jelas dengan anak, misalnya penggunaan gawai hanya diperbolehkan setelah tanggung jawab sehari-hari diselesaikan. Dengan cara tersebut, anak belajar memahami hubungan antara hak dan kewajiban tanpa merasa dipaksa. Selain itu, orang tua juga dianjurkan menyiapkan berbagai aktivitas positif selama masa liburan agar anak memiliki kesempatan mengembangkan kreativitas dan kemandirian.

Lebih lanjut, dr. Vivi menekankan pentingnya keteladanan dalam pengasuhan. Menurutnya, anak akan lebih mudah mengikuti perilaku yang dicontohkan dibandingkan sekadar mendengarkan perintah. “Walk the talk. Orang tua perlu melakukan terlebih dahulu sebelum menyuruh anak. Anak belajar dari apa yang ia lihat setiap hari, bukan hanya dari apa yang ia dengar,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....