Fatherless dan Dampaknya pada Emosi Anak
- 13 Jun 2026 12:32 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk praktisi kesehatan jiwa. Istilah ini belakangan semakin sering dibahas karena dinilai berkaitan dengan perkembangan emosional, sosial, hingga kesehatan mental anak.
Penasehat PDSKJI Malang Raya, dr. Wisnu Wahyuni, SpKJ(K), menjelaskan bahwa fatherless tidak selalu berarti seorang anak kehilangan ayah secara fisik atau tumbuh tanpa sosok ayah di rumah. Menurutnya, kondisi tersebut lebih mengacu pada kurangnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan dan pendampingan anak sehari-hari.
"Fatherless tidak selalu berarti ayah tidak ada. Banyak ayah yang hadir secara fisik di rumah, tetapi belum tentu hadir secara emosional. Anak membutuhkan perhatian, kepedulian, dan keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembangnya, bukan hanya pemenuhan kebutuhan finansial," ujarnya kepada RRI Malang pada Jumat (12/6/2026).
Ia menjelaskan, perubahan peran ayah dalam keluarga mulai terlihat sejak revolusi industri, ketika laki-laki lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk bekerja. Kondisi tersebut secara tidak langsung membentuk pola bahwa tugas utama ayah hanya sebagai pencari nafkah. Padahal, menurut dr. Wisnu, anak juga membutuhkan sosok ayah sebagai teladan, pembimbing, sekaligus tempat belajar memahami kehidupan.
Lebih lanjut, dr. Wisnu mengungkapkan bahwa kurangnya keterlibatan ayah dapat memunculkan berbagai dampak pada anak. Beberapa di antaranya adalah kesulitan mengelola emosi, mudah tantrum, rendahnya motivasi belajar, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Dalam kasus tertentu, kondisi tersebut bahkan dapat berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental yang lebih serius.
"Anak yang mengalami kekurangan peran ayah bisa menunjukkan berbagai gejala, mulai dari tantrum, sulit termotivasi, hingga mencari perhatian secara berlebihan. Memang bukan semata-mata karena fatherless, tetapi kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara anak berpikir, mengelola emosi, dan menghadapi tantangan hidup," jelasnya.
Karena itu, dr. Wisnu mengajak para orang tua, khususnya ayah, untuk meningkatkan kualitas keterlibatan dalam kehidupan anak. Menurutnya, kehadiran ayah tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga perlu diwujudkan melalui komunikasi, perhatian, dan pendampingan yang konsisten agar anak dapat tumbuh dengan lebih sehat secara emosional maupun sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....