Filosofi Buaya Bagi Suku Dayak Lundayeh

  • 22 Agt 2024 18:07 WIB
  •  Tarakan

KBRN, Tarakan : Suku Dayak Lundayeh terkenal sebagai suku pemberani yang tak kenal takut. Mereka tanpa ragu menyerang musuh. Suku ini bahkan dikenal sebagai pemburu kepala musuh serta memakan jantung dan hati musuhnya.

Karakter masyarakat suku Dayak Lundayeh ini diibaratkan seperti Buaya. Buaya menjadi lambang bagi Suku Dayak Lundayeh.Terdapat filosofi yang menghubungkan kehidupan Suku Dayak Lundayeh dengan buaya.

Merujuk pada cara hidupnya di masa lalu, Suku Dayak Lundayeh menyimbolkan hidupnya seperti buaya. Ada makna mendalam hewan Buaya bagi suku ini.Bertempat di Krayan, Kalimantan Utara,di sinilah bisa ditemukan Suku Dayak Lundayeh sebagai suku asli yang menetap di pedalaman hutan Kalimantan tersebut. Buaya adalah hewan pemberani dan penguasa yang menunjukkan bagaimana karakter orang Lundayeh.

Buaya dikenal sebagai hewan yang tidak memiliki rasa takut dihadapan musuh, sekalipun lawan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar. Kapan pun, dia akan siap sedia menyerang. Dalam bertahan, buaya menggunakan segenap tenaga dan seluruh badannya untuk menyerang dan mempertahankan diri. Mulai dari kepala, ekor, sampai kulit bisa digunakan sebagai senjata atau alat pertahanan diri.

Karakter Buaya yang berani inilah yang melambangkan warga Lundayeh. Mereka yang hidup di pedalaman dan daerah pegunungan harus siap dengan segala keadaan dan tantangan yang kapan pun bisa terjadi.Keunggulan dari buaya adalah kemampuannya hidup di dunia alam yaitu air dan darat.

Walaupun banyak hewan lain yang mampu bertahan di dua dunia seperti katak, tapi yang punya keberanian dan kuat hanyalah buaya. Demikian pula dengan warga Lundayeh. Komunitasnya yang juga sudah tersebar mencerminkan bahwa mereka mampu beradaptasi dan bertahan di mana saja.

Saat menyerang maupun bertahan di hadapan lawan, buaya menggunakan ekor, kulit, badan, serta rahang.Ini menunjukkan daya tahan dan keberanian Lundayeh. Mereka juga dapat memanfaatkan segala potensi diri dan membaca lingkungan atau situasi. Buaya hanya memiliki satu pasangan saja seumur hidupnya dan bila pasangannya itu mati dia tidak akan mencari pasangan lagi. Masyarakat Lundayah pun tidak mengenal budaya nikah lebih dari satu kali.

Buaya begitu tenang saat mengintai dan mendekati objek yang jadi incaran. Musuhnya pun terlena dan tidak merasakan adanya ancaman.Begitu juga dengan warga Lundayeh yang rata-rata tetap tenang, yakin, dan berani dalam menghadapi semua tantangan dan fokus dalam mencapai tujuannya. Secara filosofis, lima poin tersebut dikatakan mewakili sifat orang Lundayeh dan didapati pula pada buaya. Tak heran jika di pemukiman Dayak Lundayeh, bisa ditemukan patung-patung buaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....