Manfaat dan Efek Samping Steroid

  • 17 Jan 2024 22:38 WIB
  •  Entikong

KBRN, Entikong: Steroid sering juga disebut sebagai obat dewa karena dianggap dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit dengan efek yang sangat dramatis dan cepat. Antara lain reaksi alergi berat, serangan asma berat, penyakit reumatik radang berat dan beberapa penyakit lainnya.

Bila kita telisik lebih jauh, hal itu karena efek steroid yang dapat menurunkan reaksi peradangan dengan cepat, hal yang menjadi dasar dari hampir seluruh proses penyakit. Adanya peradangan dalam tubuh dapat dilihat dari berbagai gejala seperti panas/demam (kalor), kemerahan/eritema (rubor), nyeri (dolor), bengkak (tumor), maupun gangguan fungsi (functio laesa).

Dilansir dari Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan, Kemenkes, Rabu (17/1/2024), manfaat pemberian steroid dibagi menjadi dua bagian, yaitu kortikosteroid sistemik dan local/topikal. Terkait dengan manfaat dan indikasi pemberian steroid sistemik, steroid sistemik dapat memberikan efek positif pada berbagai jenis penyakit.

Beberapa kondisi yang dapat diobati dengan steroid sistemik adalah asma (baik sebagai obat saat serangan akut atau sebagai obat pengontrol), penyakit reumatik radang (artritis reumatoid), penyakit autoimun sistemik (terutama jenis lupus eritematosus sistemik), radang usus, peradangan ginjal (sindrom nefrotik), radang mata merah (konjungtivitis terutama akibat alergi), anemia akibat pemecahan sel darah merah (anemia hemolitik autoimun), cedera kepala, perdarahan otak, Bell’s palsy (kelumpuhan satu sisi saraf wajah), reaksi alergi maupun biduran (urtikaria).

Selain itu, steroid juga dapat digunakan untuk pasien yang baru menjalani transplantasi organ tubuh selain obat tambahan lain untuk menekan sistem imun dan mencegah reaksi penolakan tubuh terhadap organ yang dicangkokkan. Penambahan obat ini juga dapat dipergunakan pada penderita keganasan untuk membantuk menekan efek mual dan muntah sebelum dan sesudah pemberian obat kemoterapi.

Pada situasi bayi yang berisiko lahir prematur, ibunya dapat diberikan steroid untuk mematangkan paru-paru janin dan mencegah bayi tidak menangis atau kekurangan oksigen saat lahir.

Kortikosteroid topikal juga tidak kalah penting pada penanganan beberapa jenis penyakit, terutama digunakan pada kelainan kulit. Sejumlah kelainan kulit seperti alergi kulit/dermatitis atopik, lichen simpleks kronik, eksim/dermatitis seboroik (ketombe), alergi zat kimia/dermatitis kontak, psoriasis, vitiligo, pemfigus, pemfigoid bullosa, keloid, reaksi gigitan serangga, hingga pengobatan tahap awal kanker kelenjar getah bening.

Penggunaan sediaan kortikosteroid topikal ini terutama dapat memberikan efek lebih baik pada aspek kosmetik dan keluhan gatal, selama pemberiannya tepat dan diberikan oleh klinisi. Pemberian tersebut harus mempertimbangkan luas dan ketebalan dari kelainan kulit sehingga efek obat/potensi, sediaan, jumlah dan jangka waktu pemakaian dapat diberikan dengan tepat.

Walaupun steroid memiliki manfaat yang besar, berbagai temuan terbaru juga menunjukkan bahwa konsumsi obat ini memiliki banyak sekali efek samping. Bahkan, bila konsumsi obat ini diberikan dalam jangka waktu panjang dan tidak sesuai indikasi dari dokter, maka dampak bagi kesehatan yang lebih besar akan timbul, baik peningkatan keparahan penyakit atau timbulnya penyakit baru.

Walaupun demikian, pada sebagian kasus, efek tersebut tidak dapat dihindari karena obat steroid merupakan satu-satunya pilihan obat terbaik, sehingga mau tidak mau harus digunakan walaupun juga telah dikembangkan metode terapi yang disebut steroid-sparing (obat pengganti/pendamping steroid dari golongan lain, seperti jenis obat penekan system imun/imunosupresan) sehingga dosisnya dapat diturunkan dibandingkan kebutuhan bila obat steroid digunakan secara tunggal. Dampak tersebut juga akan dibahas mengenai penggunaannya secara sistemik maupun topikal.

Penggunaan kortiokosteroid sistemik, terutama pada jangka panjang dapat menimbulkan berbagai efek pada tubuh manusia. Sindrom Cushing (hiperkortisolisme) terjadi akibat tingginya hormon steroid (kortisol) dalam darah pada jangka panjang dan menimbulkan dampak buruk pada fungsi jantung, pembuluh darah, maupun sistem imun tubuh.

Sekitar 70% kematian akibat sindrom Cushing dihubungkan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah atau kejadian infeksi yang berat. Efek samping penggunaan steroid jangka panjang banyak sekali, meliputi gangguan kejiwaan seperti sulit tidur/insomnia atau depresi, kelainan mata (katarak, glaukoma) yang juga dapat terjadi pada penggunaan tetes mata steroid, penyakit jantung dan pembuluh darah (hipertensi, penyakit jantung koroner/infark miokard, gagal jantung), gangguan lemak darah (dislipidemia), pengentalan darah, gangguan saluran pencernaan (tukak lambung), peningkatan kadar gula darah/hiperglikemia (diabetes mellitus), gangguan cairan dan garam tubuh/elektrolit, pertumbuhan rambut berlebih pada wanita seperti kumis, jenggot, dada (hirsutisme), gangguan mekanisme penyembuhan luka, peningkatan kerentanan terhadap infeksi, lipodistrofi (gangguan penumpukan lemak tubuh), gangguan otot (miopati), gangguan tulang (osteoporosis, patah tulang karena tulang sangat rapuh, kerusakan tulang/osteonekrosis), serta gangguan tumbuh kembang anak.

Selain penggunaan jangka panjang, penghentian penggunaan steroid tidak boleh dilakukan secara mendadak, bila dihentikan mendadak, steroid juga dapat menimbulkan efek samping (gejala penekanan fungsi kelenjar adrenal), antara lain meliputi demam, lesu (malaise), iritabilitas, mual, nyeri otot-sendi maupun tekanan darah rendah (hipotensi).

Pemberian steroid topikal, efek utamanya terjadi karena dampaknya dalam menurunkan sistem imun tubuh. Sebagai contoh, pernah ditemukan kasus infeksi kulit yang diobati sendiri oleh pasien dengan krim kortikosteroid. Saat datang (sekitar seminggu sejak awal perjalanan penyakit), infeksi sudah melebar dengan pembengkakan dan pembentukan nanah yang besar sehingga diperlukan upaya tindakan medis (insisi) pada daerah luka untuk mengeluarkan nanah.

Padahal, bila langsung diberikan tatalaksana adekuat sesuai penyebabnya (diperkirakan akibat bakteri), maka hal tersebut dapat dicegah. Selain ilustrasi di atas, steroid topikal juga dapat menimbulkan terjadinya biang keringat/miliaria, pengerutan/atrofi kulit, perubahan karakteristik kelainan kulit (contohnya menutupi gambaran infeksi jamur, termasuk memperlebar/memperluas infeksi jamur, memperburuk kelainan kulit pada infeksi virus herpes, perubahan lesi akibat kutu tubuh seperti scabies maupun jamur, hipertrikosis (pertumbuhan rambut berlebih), sensitif terhadap cahaya matahari/fotosensitif, perubahan pigmen kulit (warna kulit menghitam/bercak hiperpigmentasi atau warna kulit memudar/pucat/becak hipopigmentasi), dermatitis kontak, maupun reaksi alergi.

Selain dampak pada kesehatan, penggunaan steroid jangka panjang juga dapat menimbulkan berbagai risiko pada kondisi psikologis dan dampak pada orang-orang di sekitar pengguna. Sebagai contoh, perilaku agresif yang dapat terjadi dapat menimbulkan bahaya pada anak, pasangan, keluarga lainnya dan teman pengguna. Sementara itu, perubahan faktor psikologis ini dapat menimbulkan risiko tindakan yang melanggar hukum.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....