Sensus Ekonomi 2026, Momentum NTT Lepas dari Stigma Daerah Tertinggal
- 16 Jul 2026 12:55 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Nusa Tenggara Timur (NTT) telah lama hidup di bawah bayang-bayang berbagai stigma negatif. Mulai dari predikat sebagai salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tinggi, angka stunting yang memprihatinkan, hingga anggapan sebagai daerah yang tertinggal.
Label tersebut kerap membentuk persepsi publik dan memengaruhi arah kebijakan pembangunan, padahal belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat secara utuh. Di tengah kondisi tersebut, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menjadi momentum penting bagi NTT untuk memperlihatkan wajah ekonomi yang sesungguhnya.
Dengan dukungan sekitar 6.000 petugas Badan Pusat Statistik (BPS) NTT dan alokasi anggaran sebesar Rp137,89 miliar, sensus ini bukan sekadar agenda statistik yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun. Lebih dari itu, SE2026 dapat menjadi titik balik bagi NTT untuk membangun narasi baru sebagai daerah yang memiliki potensi ekonomi besar dan layak diperhitungkan.
Salah satu alasan mengapa SE2026 begitu strategis adalah kemampuannya mengungkap potensi ekonomi yang selama ini belum tercatat. Struktur ekonomi NTT sangat berbeda dengan daerah-daerah industri di Pulau Jawa.
| Baca juga: Tuhan Bekerja Dibalik Segala Perkara Hidup |
Kekuatan ekonomi provinsi ini justru bertumpu pada sektor informal, seperti usaha mikro dan kecil, tenun ikat, kuliner lokal, pertanian subsisten, hingga pariwisata berbasis masyarakat. Selama bertahun-tahun, ribuan pelaku usaha tersebut beroperasi di luar sistem administrasi formal.
Aktivitas ekonomi mereka menghasilkan pendapatan, membuka lapangan pekerjaan, dan menopang kehidupan keluarga, tetapi kontribusinya belum sepenuhnya tercermin dalam data resmi. Melalui pendataan langsung dari rumah ke rumah, SE2026 berpeluang menghadirkan gambaran ekonomi yang lebih akurat sekaligus menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi NTT jauh lebih besar daripada yang selama ini terlihat dalam indikator makro.
Selain memperbaiki kualitas data, hasil sensus juga diharapkan mampu mengubah paradigma pembangunan. Selama ini, stigma sebagai daerah tertinggal sering membuat pendekatan kebijakan lebih berorientasi pada bantuan sosial.
Padahal, bantuan semata tidak selalu mampu menyelesaikan akar persoalan ekonomi. Dengan data yang lebih presisi, pemerintah pusat maupun daerah dapat merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran.
| Baca juga: Belis dan Kualitas Hidup Perempuan |
Informasi mengenai persebaran usaha mikro, kebutuhan permodalan, potensi sektor unggulan, hingga hambatan yang dihadapi pelaku usaha dapat menjadi dasar untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui akses pembiayaan, pelatihan digital, peningkatan kapasitas usaha, dan pembangunan infrastruktur ekonomi yang relevan. SE2026 juga memiliki arti penting dalam meningkatkan kepercayaan investor.
Salah satu hambatan investasi di NTT selama ini adalah minimnya data ekonomi yang komprehensif sehingga tingkat risiko sering dianggap tinggi. Padahal, apabila sensus mampu menunjukkan besarnya jumlah pelaku usaha aktif, keterkaitan sektor pariwisata dengan rantai pasok lokal, serta meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, maka persepsi tersebut dapat berubah.
Data yang kredibel akan menjadi modal penting untuk menarik investasi yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, ekonomi hijau, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan demikian, NTT tidak hanya dikenal karena potensi alamnya, tetapi juga karena kekuatan ekosistem ekonominya.
Meski demikian, keberhasilan SE2026 tidak terlepas dari berbagai tantangan. Kondisi geografis NTT yang terdiri atas banyak pulau dengan medan yang sulit menjadi ujian bagi ribuan petugas sensus.
Selain itu, masih terdapat keraguan sebagian masyarakat yang menganggap pendataan berkaitan dengan pajak atau kepentingan lain di luar statistik.
Karena itu, partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan sensus ini. Pelaku usaha diharapkan memberikan informasi secara jujur dan lengkap, sementara pemerintah daerah perlu memastikan hasil sensus benar-benar dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan. Tanpa komitmen tersebut, data yang dihasilkan hanya akan menjadi arsip tanpa dampak nyata.
Pada akhirnya, SE2026 merupakan kesempatan bagi NTT untuk mendefinisikan dirinya melalui data, bukan melalui stigma. Sudah saatnya provinsi ini tidak lagi dipandang sebagai wilayah yang identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan, melainkan sebagai daerah yang memiliki potensi ekonomi, kreativitas masyarakat, dan peluang investasi yang besar.
Apabila seluruh pihak mampu memanfaatkan momentum ini dengan baik, Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya menghasilkan angka-angka statistik, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya kebijakan yang lebih adil, pembangunan yang lebih inklusif, dan masa depan NTT yang lebih mandiri serta berdaya saing.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....