Belis dan Kualitas Hidup Perempuan
- 15 Feb 2026 13:13 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Belis selama ini dikenal sebagai simbol penghormatan dalam budaya perkawinan di Nusa Tenggara Timur. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bagian penting dalam membangun ikatan sosial antara dua keluarga besar sekaligus menegaskan pengakuan adat atas sebuah pernikahan.
Namun, di balik nilai adat yang dijunjung tinggi, terdapat realitas kehidupan perempuan setelah menikah yang tidak selalu terlihat di ruang publik. Dalam praktiknya, belis pada sejumlah kasus turut memengaruhi relasi dalam rumah tangga, kondisi ekonomi keluarga, hingga kualitas hidup perempuan.
Hal tersebut disampaikan Paula Kale Lado, MEAL Officer Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat, dalam wawancara bersama Pro 4 RRI Kupang pada program Obrolan Budaya, Jumat, 13 Februari 2026.
Paula menjelaskan, pandangannya merujuk pada hasil penelitian tesisnya yang berjudul Kualitas Hidup Perempuan yang Menikah dengan Belis. Penelitian tersebut melibatkan 267 partisipan perempuan yang menikah dengan belis dari berbagai latar belakang sosial di Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, pada tahap awal pernikahan, sebagian besar perempuan memaknai belis sebagai bentuk penghargaan terhadap diri mereka dan keluarga. Pengakuan adat melalui belis juga memberi rasa bangga karena pernikahan dianggap sah secara budaya, serta membuat status perempuan menjadi jelas di dalam keluarga suami dan komunitas. Namun, makna belis tidak bersifat statis. Seiring berjalannya kehidupan berumah tangga, makna tersebut menjadi dinamis dan sangat bergantung pada pengalaman relasional perempuan dalam pernikahan.
“Pengalaman sehari-hari dalam relasi pernikahan—seperti pola komunikasi dengan pasangan, keterlibatan dalam pengambilan keputusan keluarga, serta perlakuan yang diterima—lebih menentukan bagaimana perempuan menilai kualitas hidupnya dibandingkan dengan belis itu sendiri,” ujar Paula.
Ia menambahkan, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa belis tidak dimaknai secara hitam-putih, baik semata sebagai bentuk penghargaan maupun sebagai tekanan. Makna belis sangat kontekstual dan dipengaruhi oleh relasi yang terbangun setelah pernikahan berlangsung.
Dalam sejumlah kasus, Paula mengungkapkan, perempuan merasakan tekanan ketika nominal belis terlalu tinggi dan memberatkan kondisi ekonomi keluarga. Tekanan ekonomi tersebut dapat berdampak pada kesejahteraan perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Selain itu, belis juga kerap diungkit kembali saat terjadi konflik berumah tangga, yang berpotensi memperburuk relasi antara suami dan istri.
Paula menegaskan, kualitas hidup perempuan dalam pernikahan pada akhirnya lebih ditentukan oleh relasi yang setara, rasa aman, serta dukungan emosional dan sosial yang diterima perempuan dalam kehidupan sehari-hari, bukan semata oleh praktik belis itu sendiri. (TT)