Orang Tua Masih Tabu Bicara Seks, Remaja Cari Jawaban di Internet

  • 05 Okt 2026 12:19 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Keterbatasan komunikasi antara orang tua dan anak menjadi salah satu faktor yang membuat remaja rentan terpapar informasi keliru terkait reproduksi dan seksualitas.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTT, dr. Yovita A. Mitak, M. PH dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Senin, 5 Oktober 2026 mengatakan, masih ada orang tua yang menganggap pembicaraan mengenai reproduksi dan seksual sebagai sesuatu yang tabu.

“Orang tua masih sampai saat ini ada yang masih tabu membicarakan persoalan reproduksi maupun persoalan seksual kepada anak-anak secara jujur dan terbuka,” ujar dr. Yovita.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat anak justru mencari sumber informasi lain ketika membutuhkan jawaban mengenai persoalan yang berkaitan dengan tubuh, reproduksi maupun seksualitas.

Orang tua yang cenderung menutup-nutupi atau menggunakan simbol ketika menjelaskan persoalan tersebut, dinilai dapat membuat anak membandingkan informasi yang diterimanya dengan berbagai sumber lain yang tersedia di internet dan media sosial.

“Kita tidak terbuka menyampaikan sesuatu. Nah ini juga membuat secara psikologis remaja juga melihat, ‘kok orang tua saya ngomongnya seperti ini’, mereka sudah ada pembanding-pembanding,” katanya.

Ia menilai, derasnya informasi di media sosial tanpa filter juga menjadi tantangan tersendiri bagi remaja. Rasa ingin tahu pada usia remaja dapat mendorong mereka mencari informasi lebih jauh, sementara tidak semua informasi yang ditemukan dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksual dinilai perlu diberikan sejak dini, dengan materi yang disesuaikan dengan perkembangan usia anak. “Edukasi seks sesuai dengan perkembangan usianya itu sudah harus dilakukan sedini mungkin, sesuai dengan perkembangan usia sampai kepada remaja,” ujarnya.

Selain memberikan edukasi, orang tua juga diminta membangun komunikasi yang hangat dan terbuka agar anak merasa nyaman menjadikan keluarga sebagai tempat pertama untuk bertanya. “Orang tua juga dalam melakukan edukasi atau berdiskusi dengan anak itu harus terbuka dan jujur. Jangan memakai simbol-simbol,” ucapnya.

Dr. Yovita menegaskan, komunikasi keluarga yang baik dapat membantu anak memperoleh informasi yang benar sekaligus membangun kemampuan untuk menyaring pengaruh dari lingkungan maupun media sosial.

“Kalau di dalam rumah dia mendapat informasi yang cukup membuat dia puas untuk memahami itu, dia tidak akan mencari informasi itu di luar atau ingin kepo melihat di medsos,” katanya.

Data KPA yang disampaikan menunjukkan hingga Juni 2026 terdapat 10.209 kasus HIV yang terdata di NTT. Kelompok usia 19–25 tahun menyumbang sekitar 26 persen, sementara kelompok usia 16–18 tahun juga telah tercatat sekitar 3 persen dari kasus tersebut.

Kondisi tersebut memperkuat pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam memberikan edukasi kesehatan reproduksi yang tepat, terbuka, dan sesuai usia. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....