Tawuran Antarpelajar, Pendidik Soroti Krisis Pengawasan dan Pencarian Identitas

  • 01 Okt 2026 14:10 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Fenomena tawuran antarpelajar yang terjadi di Kota Kupang mendapat sorotan dari kalangan pendidik. Tokoh muda Nusa Tenggara Timur, Dr. David Natun, menilai tawuran tidak dapat dilihat semata-mata sebagai persoalan kenakalan remaja, tetapi perlu dilihat dari berbagai faktor, termasuk pencarian jati diri, pengaruh lingkungan, media sosial, serta lemahnya pengawasan terhadap aktivitas anak.

David mengatakan, sebagian pelajar berada dalam fase pencarian identitas. Pada fase tersebut, anak memiliki keinginan untuk menunjukkan eksistensi dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membuat konflik antarpelajar mudah berkembang, terutama ketika komunikasi antarkelompok berlangsung tanpa pengawasan yang memadai. “Anak-anak kita sebagian berada pada masa-masa pencarian jati diri, sehingga kemudian ingin tampil, ingin kasih tahu kalau dia itu siapa kepada publik,” ujar David.

Selain faktor pencarian identitas, David menyoroti perkembangan media sosial dan konten yang mengandung kekerasan. Menurutnya, informasi yang diterima anak melalui media digital dapat memengaruhi cara mereka memandang konflik dan kekerasan.

Ia menjelaskan, konflik yang awalnya hanya melibatkan dua atau tiga orang dapat berkembang menjadi persoalan kelompok ketika sudah membawa nama institusi atau sekolah. “Awalnya mungkin dua-tiga orang, tetapi kemudian merambat ke mana-mana, bahkan menyebut nama institusi dan merisaukan banyak pihak,” katanya.

David menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi orang tua dan sekolah. Di lingkungan keluarga, orang tua perlu membangun komunikasi yang lebih intensif dengan anak serta memberikan pemahaman mengenai risiko dari tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Sementara di sekolah, pendidik dituntut memperkuat penegakan disiplin dan aturan. Sekolah juga perlu memberikan pemahaman kepada siswa mengenai konsekuensi tawuran, baik terhadap keselamatan fisik, kehidupan sosial, maupun masa depan akademik mereka.

“Di sekolah kami harus benar-benar serius memberi informasi, termasuk menangani anak-anak seperti yang sementara kita hadapi ini, terkait risiko yang akan mereka hadapi, baik itu risiko fisik, sosial, akademik maupun non-akademik,” ujarnya.

Selain penegakan disiplin, David mendorong sekolah memperbanyak kegiatan positif bagi siswa. Menurutnya, aktivitas yang terarah dapat membantu mengurangi waktu luang yang berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan yang tidak produktif.

Ia juga meminta komunikasi antara sekolah dan orang tua diperkuat sehingga pengawasan terhadap anak tidak berhenti ketika siswa meninggalkan lingkungan sekolah. David juga mendorong aparat melakukan patroli rutin di sekitar lingkungan sekolah serta meningkatkan sosialisasi kepada pelajar.

Aparat dapat hadir dalam kegiatan apel atau upacara sekolah untuk memberikan pemahaman mengenai dampak dan risiko hukum maupun sosial apabila siswa terlibat dalam tawuran. Menurut David, upaya pencegahan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Orang tua, sekolah, pemerintah, aparat keamanan, hingga tokoh agama perlu mengambil peran masing-masing.

Ia menambahkan, siswa yang terbukti terlibat dalam tawuran perlu mendapatkan penanganan khusus agar memahami konsekuensi dari tindakannya sekaligus mencegah kejadian serupa berulang. “Semua pilar bergerak bersama, kita yakin bahwa kurang lebih kita bisa mengantisipasi,” kata David, mengakhiri. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....