GMNI Dorong Kebijakan Khusus bagi 94 Mahasiswa UNWIRA Terdampak Gempa Flores
- 01 Sep 2026 13:58 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kepedulian terhadap mahasiswa yang terdampak gempa bumi di Flores terus disuarakan Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Kupang. Setelah sebelumnya melakukan audiensi dengan pihak Muhammadiyah Kupang, GMNI Kupang kembali mendatangi Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang untuk membahas kondisi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana gempa bumi di wilayah Flores.
Audiensi tersebut berlangsung bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UNWIRA Kupang, Dr. Yohanis Nurak Siwa, S.Pd., M.Pd. Ketua DPC GMNI Kupang, Jacson Marcus, dalam pertemuan tersebut menyampaikan sejumlah aspirasi terkait kondisi mahasiswa UNWIRA yang berasal dari wilayah terdampak gempa.

Menurut GMNI Kupang, bencana gempa tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik dan kerugian ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlangsungan pendidikan mahasiswa yang keluarganya menjadi korban terdampak. Mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana tentu menghadapi persoalan yang tidak sederhana.
Ada rumah yang rusak, sumber pendapatan keluarga yang terganggu, bahkan kebutuhan dasar dan biaya pendidikan yang menjadi beban. Karena itu, GMNI Kupang mendorong UNWIRA agar mempertimbangkan kondisi mahasiswa terdampak dalam mengambil kebijakan akademik maupun pembiayaan pendidikan.
Selain meminta kebijakan yang berpihak kepada mahasiswa terdampak, GMNI Kupang juga menekankan pentingnya pendataan, verifikasi, dan validasi mahasiswa korban terdampak. Langkah tersebut dinilai penting agar bantuan maupun kebijakan yang diberikan kampus benar-benar tepat sasaran.
Aspirasi yang disampaikan GMNI Kupang mendapat respons positif dari pihak UNWIRA. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UNWIRA menyampaikan bahwa pihak universitas terus melakukan koordinasi internal untuk merumuskan langkah dan kebijakan bagi mahasiswa yang terdampak bencana.
Salah satu kebijakan yang telah diputuskan adalah memberikan keringanan kepada mahasiswa terdampak berupa pembebasan tanggungan SKS selama satu semester. Selain itu, UNWIRA juga telah menyalurkan bantuan sembako kepada mahasiswa terdampak yang berada di Kota Kupang.
Kebijakan tersebut menjadi bentuk respons kampus terhadap kondisi mahasiswa yang sedang menghadapi dampak bencana, sekaligus upaya agar persoalan ekonomi akibat gempa tidak semakin menghambat proses pendidikan mereka. Ketua DPC GMNI Kupang, Jacson Marcus, mengapresiasi langkah yang telah diambil pihak UNWIRA.
Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap mahasiswa ketika berada dalam situasi krisis. “Inilah wujud kepedulian kampus terhadap mahasiswa,” ujarnya.
| Baca juga: Yuvensius Tinggalkan NasDem setelah 14 Tahun |
Dalam upaya mengawal persoalan tersebut, GMNI Kupang juga telah menyurati sejumlah perguruan tinggi di Kota Kupang. Surat tersebut ditujukan untuk meminta perhatian sekaligus memperoleh informasi mengenai kondisi mahasiswa yang terdampak gempa, termasuk langkah dan kebijakan yang akan diberikan masing-masing perguruan tinggi.
Khusus untuk mahasiswa UNWIRA, data sementara yang dihimpun GMNI Kupang menunjukkan terdapat sekitar 94 mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di UNWIRA dan terdampak bencana gempa bumi di Flores. Namun, angka tersebut belum menjadi data final.
GMNI Kupang menyebut data yang telah dihimpun akan disinkronkan dengan data yang dimiliki pihak universitas. Proses tersebut juga diharapkan dapat menemukan mahasiswa terdampak yang sebelumnya belum masuk dalam pendataan.
Bagi GMNI Kupang, persoalan mahasiswa terdampak gempa tidak boleh berhenti pada persoalan bantuan logistik semata. Bencana dapat merusak rumah, mengganggu perekonomian keluarga, bahkan mengancam keberlanjutan pendidikan anak-anak muda.
Karena itu, dukungan terhadap korban bencana juga harus diwujudkan melalui kebijakan pendidikan yang memberikan ruang bagi mahasiswa terdampak untuk tetap bertahan dan melanjutkan studinya. GMNI Kupang menilai pendidikan merupakan hak yang harus tetap dijaga, termasuk ketika masyarakat sedang menghadapi situasi bencana.
Solidaritas kemanusiaan, bukan hanya tentang menghadirkan bantuan sembako atau kebutuhan dasar, tetapi juga memastikan mahasiswa dari keluarga terdampak tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan dan membangun masa depan. Audiensi dengan UNWIRA tersebut menjadi bagian dari rangkaian langkah GMNI Kupang dalam mengawal nasib mahasiswa terdampak gempa Flores, sekaligus mendorong perguruan tinggi di Kota Kupang mengambil kebijakan konkret yang berpihak kepada mahasiswa dalam situasi bencana. (rls/DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....