Warga Bajawa Masih Dihantui Gempa Flores, Aktivitas Warga Terbatas

  • 19 Agt 2026 11:58 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Suasana di Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, masih diliputi kecemasan setelah gempa kuat mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu, 15 Agustus, sekitar pukul 05.50 WITA. Meri Leza, salah seorang warga Bajawa, menceritakan kepanikan yang terjadi saat gempa mengguncang ketika sebagian besar warga masih berada di rumah.

Guncangan yang dirasakan sangat kuat membuat warga berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. “Semua pada lari berhamburan keluar. Ada yang lompat dari tempat tidur, ada yang dari kamar mandi tidak pakai baju langsung lari keluar,” kata Meri.

Warga kemudian berkumpul di tanah kosong di depan rumah yang dinilai lebih aman. Dalam suasana dingin, sebagian warga keluar hanya dengan mengenakan selimut, sementara yang lain bahkan tidak sempat mengambil pakaian.

Kepanikan semakin terasa ketika seorang warga mengingat ayahnya yang mengalami stroke dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Setelah berhasil keluar rumah, anaknya kembali masuk dan menggendong sang ayah untuk menyelamatkannya.

Peristiwa tersebut membuat warga, termasuk anak-anak, menangis dan mengalami ketakutan. Ketakutan warga belum berakhir.

Gempa-gempa susulan terus dirasakan sejak Sabtu hingga Selasa. Menurut Meri, gempa susulan sempat terjadi dengan jeda sekitar 15 hingga 30 menit.

Meskipun sebagian guncangan terasa lebih kecil, warga masih enggan beraktivitas di dalam rumah. Mereka memilih berada di halaman atau tempat terbuka karena khawatir gempa kembali terjadi sewaktu-waktu.

Bahkan aktivitas ke kebun pun dilakukan dengan penuh kewaspadaan. Warga khawatir terhadap kemungkinan pohon besar tumbang apabila gempa kembali mengguncang.

“Kami lebih senang, lebih nyaman aktivitasnya di halaman, di luar. Pergi di kebun juga kita takut. Jangan sampai ada gempa, di sana ada pohon besar,” kata Meri.

Dampak gempa juga dirasakan dunia pendidikan. Sekolah-sekolah di wilayah tersebut sementara diliburkan.

Berdasarkan informasi yang diterima warga dari dinas terkait, kegiatan belajar mengajar direncanakan kembali pada 20 Agustus. Kebijakan tersebut diambil karena kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak apabila gempa susulan kembali terjadi ketika mereka berada di dalam gedung sekolah.

Di tengah situasi yang masih penuh kecemasan, bantuan untuk warga terdampak mulai berdatangan. Sejumlah pihak, baik secara pribadi maupun kelompok, telah turun membawa bantuan berupa kebutuhan pokok dan bantuan lainnya.

Meri mengatakan, warga yang kondisi rumahnya masih aman memilih tidak mengambil bantuan dan mengutamakan mereka yang lebih membutuhkan. Sementara itu, warga di sejumlah kampung sekitar Bajawa dilaporkan mengalami dampak yang lebih berat, termasuk kerusakan rumah dan trauma akibat gempa.

Bagi warga Bajawa, gempa tersebut bukan sekadar guncangan yang berlangsung beberapa saat. Hingga kini, rasa takut masih membayangi setiap aktivitas.

Warga tetap waspada, terutama ketika berada di dalam rumah maupun di tempat yang memiliki potensi bahaya. “Kami sekarang sedang dalam keadaan gelisah, keadaan takut. Peristiwa gempa yang kami alami dari hari pertama sampai sekarang ini,” ujar Meri.

Warga berharap kondisi segera kembali normal, bantuan terus menjangkau masyarakat yang terdampak, dan tidak ada lagi gempa besar yang mengancam keselamatan mereka. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....