Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Perkuat Kemandirian Ekonomi dan Pariwisata NTT

  • 12 Jun 2026 16:05 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi tantangan yang dihadapi perekonomian nasional, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga barang impor, biaya logistik, serta aktivitas pelaku usaha yang bergantung pada produk dari luar negeri.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Rio Kasananda kepada RRI mengatakan, dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian NTT tidak dirasakan secara langsung. Menurutnya, pengaruh yang muncul lebih banyak bersifat tidak langsung atau melalui efek lanjutan dari perubahan kondisi ekonomi nasional dan global.

"Dampak pelemahan rupiah terhadap NTT sendiri tidak direct, ada second wave dari pelemahan itu sendiri," ujar Rio saat diwawancarai melalui sambungan telpon, Jumat, 12 Juni 2026

Meski demikian, Rio menilai kondisi tersebut juga membuka peluang bagi sektor pariwisata daerah. Dengan nilai tukar rupiah yang melemah, wisatawan mancanegara memiliki daya beli yang lebih tinggi saat berkunjung ke Indonesia, termasuk ke NTT.

"Ketika terjadi pelemahan terhadap rupiah, wisatawan merasa uangnya lebih banyak sehingga mereka relatif lebih banyak berbelanja," katanya.

Ia menjelaskan, meningkatnya pengeluaran wisatawan dapat memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal, mulai dari sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga ekonomi kreatif. Karena itu, momentum ini perlu dimanfaatkan dengan meningkatkan kualitas layanan dan promosi destinasi wisata unggulan NTT.

Dalam menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia terus menerapkan berbagai bauran kebijakan untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap terkendali. Langkah tersebut dilakukan melalui intervensi yang konsisten di pasar keuangan serta penguatan koordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

"BI terus hadir menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi yang berkesinambungan dan konsisten di pasar uang," ucap Rio.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah, Rio mendorong pemerintah agar terus menjaga ketersediaan dan distribusi pasokan pangan strategis. Sementara itu, pelaku usaha diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya operasional, memperkuat penggunaan bahan baku lokal, serta menerapkan pengelolaan keuangan yang baik.

Rio juga mengajak masyarakat untuk tetap optimistis menghadapi dinamika ekonomi global. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada kondisi yang kuat dan mampu menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

"Pertumbuhan ekonomi kita masih berada di atas lima persen. Ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lainnya," ujarnya.

Ia menegaskan, sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi NTT. Dengan mengoptimalkan potensi lokal dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah, NTT diyakini mampu menghadapi berbagai tantangan global sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan yang berkelanjutan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....