Umat Katolik Kupang Hayati Makna Trihari Suci dalam Perayaan Kamis Putih

  • 03 Apr 2026 17:32 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Umat Katolik di Gereja Santo Andreas Lasiana mengikuti Perayaan Kamis Putih dengan penuh khidmat sebagai pembuka rangkaian Trihari Suci, Kamis, 2 April 2026 malam. Perayaan ini dipimpin oleh Pastor Paroki, RD. Hironimus Nitsae, yang dalam homilinya mengajak umat untuk memahami makna terdalam dari rangkaian liturgi yang tidak terpisahkan hingga Vigili Paskah.

Dalam kotbahnya, Pastor Hironimus menegaskan bahwa Trihari Suci bukan sekadar tiga perayaan terpisah, melainkan satu kesatuan liturgi panjang yang dimulai dari Kamis Putih, dilanjutkan Jumat Agung, dan mencapai puncaknya pada Sabtu Suci. Ia menjelaskan bahwa keunikan liturgi ini tampak dari tidak adanya penutup resmi pada Kamis Putih dan Jumat Agung, sebagai tanda kesinambungan iman hingga kebangkitan Kristus.

“Trihari Suci adalah satu perayaan utuh, sebuah ‘doa panjang’ Gereja yang mengajak umat masuk dalam misteri keselamatan,” ucapnya. Mengacu pada bacaan Kitab Suci, Pastor Hironimus menjelaskan kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dalam kisah Paskah Yahudi, darah anak domba menjadi tanda keselamatan. Namun dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus sendiri menjadi korban penebusan bagi umat manusia.

Melalui Perjamuan Terakhir, Yesus menghadirkan Sakramen Ekaristi sebagai tanda kasih yang nyata. “Ini bukan sekadar simbol, tetapi kehadiran nyata Kristus yang mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan manusia,” katanya.

Ia juga mengingatkan umat agar tidak memandang Ekaristi secara dangkal, melainkan sebagai perjumpaan mendalam dengan Kristus yang menuntut komitmen hidup beriman. Salah satu momen penting dalam perayaan ini adalah ritus pembasuhan kaki, yang menggambarkan kerendahan hati Yesus.

Dalam homilinya, Pastor Hironimus menekankan bahwa tindakan tersebut bukan sekadar simbol, tetapi panggilan nyata untuk melayani sesama. “Yesus, sebagai Guru dan Tuhan, rela merendahkan diri membasuh kaki murid-murid-Nya. Ini adalah teladan bahwa kasih sejati diwujudkan dalam pelayanan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kerendahan hati harus dimulai dari keluarga sebagai “sekolah pertama kasih”, tempat setiap anggota belajar saling mengasihi dan melayani. Pastor Hironimus juga menyoroti tantangan hidup beriman di tengah realitas manusia yang penuh keterbatasan.

Ia menyinggung kisah pengkhianatan Yudas sebagai cermin bahwa manusia sering terjebak dalam ego dan kepentingan diri. Namun demikian, ia menegaskan bahwa kasih Kristus tetap menjadi jalan utama yang harus dihidupi umat.

“Kasih itu tidak selalu mudah, bahkan sering terasa paradoks. Tetapi justru di situlah kita dipanggil untuk tetap mengasihi, sekalipun menghadapi penolakan,” katanya.

Salah satu umat, Laura Mame, mengungkapkan bahwa Perayaan Kamis Putih membawa makna mendalam sebagai awal perjalanan iman menuju Paskah. “Kamis Putih mengajarkan kita tentang kasih, pengorbanan, dan kerendahan hati. Ini menjadi momen untuk memperbarui iman dan mempererat persaudaraan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perayaan ini mengingatkan umat akan pengorbanan Yesus yang berpuncak pada wafat di salib demi keselamatan manusia.

Perayaan Kamis Putih bukan hanya seremoni liturgi, tetapi undangan bagi umat untuk menghidupi nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Ekaristi, pembasuhan kaki, dan refleksi iman, umat diajak untuk semakin dekat dengan Kristus.

Trihari Suci menjadi momentum penting untuk memperdalam iman, membangun kerendahan hati, serta memperkuat kasih dalam keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, umat tidak hanya merayakan, tetapi juga menghidupi makna pengorbanan dan kasih Kristus yang menjadi inti dari iman Katolik. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....