Kasus Rabies Menurun di NTT, UPTD Veteriner Tetap Siagakan Respons Cepat
- 18 Sep 2026 14:59 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kasus rabies di Nusa Tenggara Timur (NTT) disebut mengalami penurunan sepanjang 2026. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan sistem respons cepat untuk memastikan setiap dugaan kasus dapat segera ditangani sebelum berisiko lebih luas terhadap masyarakat.
Kepala UPTD Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh. Hilda S.D. Berek, M.Sc., mengatakan koordinasi antara pemerintah provinsi dengan kabupaten dan kota menjadi bagian penting dalam penanganan setiap laporan dugaan rabies. Menurut Hilda, ketika terjadi kasus gigitan atau ditemukan hewan yang dicurigai terjangkit rabies, petugas di kabupaten atau kota akan berkoordinasi dengan UPTD Veteriner Provinsi NTT.
“Provinsi selalu berkoordinasi dengan kabupaten dan kota,” ujar Hilda dalam wawancara di sela kegiatan World Rabies Day NTT 2026 di Kupang, Jumat, 18 September 2026.
Salah satu bagian penting dari sistem penanganan tersebut adalah pengambilan sampel dari hewan yang diduga rabies. Hilda menjelaskan, ketika seekor anjing telah mati dan sebelumnya menunjukkan gejala klinis yang mengarah pada rabies, petugas UPTD Veteriner akan turun melakukan pengambilan sampel.
Sampel tersebut kemudian menjalani pemeriksaan cepat untuk mengetahui apakah terdapat indikasi rabies. “Kami ada uji rapid cepat untuk mengetahui apakah benar dia rabies atau tidak, positif atau negatif,” katanya.
Hasil pemeriksaan cepat tersebut menjadi bagian dari respons awal. Jika hasilnya positif, informasi segera diteruskan kepada dinas terkait agar langkah pencegahan terhadap manusia yang berpotensi terpapar dapat dilakukan.
Namun, proses pemeriksaan tidak berhenti pada rapid test. Sampel juga dikirim ke Denpasar, Bali, untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut sebagai konfirmasi hasil.
Menurut Hilda, mekanisme tersebut dibuat agar respons di lapangan tidak harus menunggu seluruh proses pemeriksaan konfirmasi selesai. Jika hasil pemeriksaan awal menunjukkan indikasi positif, koordinasi dengan dinas terkait dapat segera dilakukan sehingga orang yang digigit dapat memperoleh penanganan medis sesuai prosedur.
| Baca juga: Ciri-Ciri Seseorang Terkena Gerd |
Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan tidak menunjukkan rabies, kondisi dapat ditindaklanjuti berdasarkan hasil tersebut dan pemeriksaan lanjutan. Pola kerja tersebut memperlihatkan bahwa penanganan rabies tidak hanya bergantung pada vaksinasi, tetapi juga membutuhkan surveilans, pemeriksaan laboratorium, koordinasi antarlembaga, dan kecepatan respons terhadap korban gigitan.
Hilda menyebut situasi rabies pada tahun ini menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. “Puji Tuhan, tahun ini sudah sangat menurun,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, laporan gigitan dan kasus kematian tahun ini sudah tidak ada. Namun, Hilda tidak memberikan angka rinci mengenai jumlah kasus karena data tersebut berada pada instansi teknis yang berwenang.
“Untuk data pastinya nanti langsung bisa ke Dinas Peternakan,” ujarnya.
Karena itu, pernyataan mengenai penurunan kasus tersebut perlu dibaca sebagai gambaran dari pemantauan UPTD Veteriner, sementara angka resmi dan rinci kasus rabies tetap mengacu pada data instansi terkait. Selain vaksinasi, Hilda juga memberikan dukungan terhadap pelaksanaan sterilisasi massal yang menjadi bagian dari kegiatan World Rabies Day NTT 2026.
Menurutnya, pengendalian populasi hewan dapat membantu memperkuat upaya pengendalian rabies di lapangan. Ia berharap program vaksinasi dapat dilakukan secara menyeluruh di Kota Kupang, baik terhadap anjing maupun kucing, sehingga risiko penyebaran rabies dapat semakin ditekan.
“Dengan adanya sterilisasi, sangat-sangat terkendali rabies di lapangan, itu harapan saya,” katanya.
Hilda pun mengajak seluruh pihak mendukung program pengendalian rabies secara bersama-sama. Bagi pemerintah, keberhasilan pengendalian rabies tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya kasus, tetapi juga oleh kemampuan sistem untuk menemukan kasus sedini mungkin, memeriksa hewan yang dicurigai, merespons korban gigitan dengan cepat, serta menjaga cakupan vaksinasi dan pengendalian populasi hewan secara berkelanjutan. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....