Anak Muda Alor Temukan Cara Baru Merawat Tradisi

  • 27 Agt 2026 12:10 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Dari kejauhan, pakaian itu tampak berbeda. Bukan kain tenun seperti yang lazim dikenakan dalam pertunjukan budaya, melainkan lembaran-lembaran pandan yang disusun menjadi jas dan penutup kepala.

Serat-seratnya memberi kesan sederhana, tetapi justru di situlah cerita tentang tradisi dan kreativitas anak muda Alor bermula. Di balik pakaian unik itu ada Enos Agalakari, seorang pegiat budaya dari Alor yang tergabung dalam Sanggar Embun Muna Abuy Aramang.

Enos Agalakari.

Bersama anak-anak muda lainnya, Enos membawa warisan budaya leluhur ke panggung karnaval dengan cara yang tidak biasa. "Kami anak muda tidak mau kalah dengan leluhur," ujar Enos.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi semacam semangat bagi mereka. Jika para leluhur mampu menemukan dan mengembangkan berbagai benda dari alam untuk kebutuhan hidup, generasi muda merasa punya tanggung jawab untuk melakukan hal serupa, tentu dengan cara mereka sendiri.

Salah satunya melalui pandan. Menurut Enos, pakaian yang mereka kenakan merupakan bentuk pengembangan dari tradisi leluhur.

Penari dari Sanggar Embun Muna Abuy Aramang.

Ia bercerita tentang leluhur mereka yang telah mengenal dan membuat payung dari bahan-bahan tradisional. Dari gagasan itulah muncul keinginan untuk mengolah pandan menjadi sesuatu yang lebih kekinian: jas, topi, dan berbagai bentuk perlengkapan lainnya.

"Pohon pandan. Kalau dalam bahasa Alor, Mataru itu namanya adiki," katanya.

Bagi Enos, budaya bukan benda mati yang hanya disimpan dan dikenang. Budaya adalah sesuatu yang bisa terus tumbuh mengikuti zaman tanpa kehilangan akar.

Ia bahkan memaknai budaya sebagai "budi dan daya", kekuatan sekaligus kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu. Karena itu, bagi anak-anak muda Sanggar Embun Muna, melestarikan budaya bukan berarti menolak perkembangan zaman.

Justru sebaliknya, tradisi harus diberi ruang untuk beradaptasi agar tetap dekat dengan generasi sekarang. Pandangan itulah yang mereka bawa ketika mengikuti karnaval budaya dalam rangka perayaan ke-81.

Mereka tidak sekadar datang membawa pakaian unik, tetapi juga membawa rangkaian tradisi yang memiliki makna tentang kebersamaan. Pertunjukan mereka diawali dengan Ngogwar, sebagai penanda kesiapan untuk hadir dan bergabung dalam sebuah perayaan.

Setelah itu ada Cakalile, yang menggambarkan semangat kebersamaan. Pada bagian akhir, mereka akan menutupnya dengan Lego-Lego.

Lego-Lego bagi masyarakat Alor bukan sekadar tarian. Di dalamnya ada gagasan tentang persatuan, tentang bagaimana yang beragam dapat berkumpul menjadi satu.

"Untuk memupuk dari beragam menjadi seragam," kata Enos menggambarkan makna Lego-Lego.

Ada perjalanan panjang yang dilakukan kelompok ini untuk sampai ke panggung karnaval. Mereka bahkan berangkat dari Alor sehari sebelumnya.

Setibanya di lokasi pada pagi hari, mereka langsung bersiap untuk tampil. Sanggar yang mereka bentuk baru berjalan sekitar setahun.

Namun semangat mereka tidak kalah dengan kelompok yang sudah lama berkesenian. Sebelumnya, mereka juga pernah hadir dalam sebuah momentum kepemudaan dan meraih juara pertama bersama Voxy.

Undangan untuk tampil kali ini menjadi kesempatan lain bagi mereka untuk menunjukkan bahwa anak muda Alor masih memiliki hubungan erat dengan budayanya. Enos menyadari tantangan terbesar pelestarian budaya hari ini bukan hanya bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi bagaimana membuat anak muda merasa bahwa tradisi adalah bagian dari kehidupan mereka.

Ia pernah berdiskusi dengan sejumlah anak muda yang tetap mengenakan kain tenun di tengah kehidupan perkotaan. Jawaban mereka membekas dalam ingatannya: perkembangan zaman boleh diikuti, tetapi tetap harus disaring.

Bagi Enos, itulah cara yang sehat untuk melihat budaya. Modern tidak harus berarti meninggalkan tradisi.

Sebaliknya, tradisi juga tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk yang sama seperti masa lalu. Jas pandan yang dikenakan Sanggar Embun Muna menjadi contoh kecil dari gagasan tersebut.

Serat pandan yang dahulu dekat dengan kehidupan masyarakat kini diolah menjadi busana pertunjukan. Tradisi tidak dibekukan, tetapi diberi bentuk baru.

Dan mungkin, justru di situlah masa depan kebudayaan berada. Di tangan anak-anak muda yang berani bertanya, mencoba, lalu menciptakan sesuatu tanpa melupakan dari mana mereka berasal.

Enos dan kawan-kawannya datang ke karnaval bukan hanya untuk menari. Mereka membawa pesan dari Alor: bahwa warisan leluhur tidak harus menjadi cerita masa lalu.

Ia bisa menjadi jas. Bisa menjadi tarian. Bisa menjadi langkah kaki yang bergerak dalam lingkaran Lego-Lego. Dan bisa pula menjadi alasan bagi generasi muda untuk tetap bangga menyebut dari mana mereka berasal. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....