Generasi Muda Didorong Jaga Keberlanjutan Tenun NTT

  • 27 Mei 2026 14:56 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Content creator asal Nusa Tenggara Timur, Desron I. Gusti Paut atau yang akrab disapa “Tua Adat”, menilai tantangan terbesar dalam memperkenalkan budaya lokal kepada generasi digital saat ini adalah perubahan gaya hidup dan kuatnya pengaruh tren global di media sosial. Hal tersebut disampaikan Desron dalam obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang, Selasa, 26 Mei 2026.

Menurutnya, generasi muda saat ini lebih banyak terpapar budaya luar sehingga budaya lokal perlu tampil lebih kreatif dan relevan agar tetap diminati. Desron mengatakan budaya lokal sebenarnya mulai tampil lebih percaya diri di media sosial, termasuk melalui penggunaan tenun dalam berbagai konten digital maupun gaya berpakaian anak muda masa kini.

Ia menilai perkembangan tersebut menjadi langkah positif dalam memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat luas. “Sekarang budaya lokal mulai lebih percaya diri tampil di media sosial," katanya.

"Anak muda juga sudah mulai berani memakai tenun dalam berbagai kesempatan,” ujarnya. Menurut Desron, budaya lokal akan tetap relevan di tengah arus modernisasi dan tren global apabila masyarakat, khususnya generasi muda, tetap bangga menggunakan dan memperkenalkan budaya daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai budaya tidak harus selalu tampil secara formal, tetapi dapat dikemas lebih santai dan modern tanpa menghilangkan makna serta filosofi budaya itu sendiri.

“Budaya bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Sekarang juga banyak modifikasi tenun yang modern, tetapi tetap mempertahankan filosofi di balik tenun tersebut,” katanya.

Desron juga menyoroti pentingnya regenerasi penenun di Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, generasi muda memiliki potensi besar untuk terjun sebagai penenun dengan kualitas yang baik sekaligus menjaga warisan budaya daerah.

Ia mengingatkan maraknya produksi dan pemasaran tenun palsu dari luar daerah dapat mengancam keberlanjutan para penenun lokal apabila tidak menjadi perhatian bersama. “Kita punya potensi besar," katanya.

"Anak-anak muda NTT juga bisa menjadi penenun dengan kualitas yang baik. Jangan sampai tenun palsu dari luar justru lebih banyak beredar daripada hasil karya asli daerah sendiri,” ujarnya.

Desron berharap generasi muda tidak hanya bangga mengenakan tenun, tetapi juga ikut menjaga keberlanjutan budaya dengan mendukung hasil karya penenun lokal. Menurutnya, keberadaan tenun bukan sekadar produk budaya, melainkan bagian dari identitas masyarakat Nusa Tenggara Timur yang perlu terus dilestarikan. Selain mendapat perhatian di dalam negeri, Desron mengungkapkan pengikut media sosialnya juga berasal dari berbagai negara seperti Inggris, Singapura, Dubai, Australia, Malaysia, hingga Korea Selatan.

Menurutnya, banyak pengikut dari luar negeri mulai tertarik mengenal tenun Nusa Tenggara Timur melalui konten-konten yang diunggahnya di media sosial. Bahkan, kata Desron, sejumlah pengikut dari mancanegara juga mulai membeli berbagai aksesoris tenun asal Nusa Tenggara Timur setelah melihat konten yang dibuatnya.

“Semua ini berawal dari konten-konten yang saya unggah. Mereka jadi tahu kalau NTT punya banyak tenun yang indah dan unik,” katanya.

Melalui media sosial, Desron berharap tenun Nusa Tenggara Timur semakin dikenal hingga tingkat internasional sekaligus membantu meningkatkan perekonomian para penenun lokal di daerah. Ke depan, Desron mengaku akan mulai menggarap konten-konten komedi menggunakan bahasa daerah dengan tetap mempertahankan ciri khas berbusana adat dan penggunaan tenun dalam setiap kontennya.

Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat ikut memperkenalkan sekaligus menjaga keberagaman bahasa daerah yang ada di Nusa Tenggara Timur. Namun demikian, Desron mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap persiapan.

Ia mengaku perlu mempersiapkan berbagai hal mulai dari terjemahan bahasa daerah, pemahaman makna bahasa, arah penggunaan bahasa, hingga konteks dan waktu penggunaan agar konten yang dibuat tetap tepat dan mudah dipahami masyarakat. Selain itu, Desron juga tengah mempersiapkan studio untuk sekolah kreator yang saat ini masih dalam tahap pembangunan.

Nantinya, tempat tersebut akan menjadi ruang belajar bagi anak-anak muda yang tertarik menjadi content creator. Ia mengatakan peserta nantinya akan didampingi mulai dari proses pembuatan video yang baik, pemilihan jenis konten, hingga teknik editing video sampai mahir.

Desron berharap kehadiran sekolah kreator tersebut dapat membantu melahirkan generasi muda kreatif yang tidak hanya mampu berkembang di dunia digital, tetapi juga tetap membawa identitas budaya lokal dalam setiap karya yang dihasilkan. (TT)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....