Konten Kreator Tua Adat Promosikan Identitas Budaya

  • 27 Mei 2026 14:49 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah perkembangan media sosial yang semakin pesat, budaya lokal dinilai tetap dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui konten hiburan dan komedi yang dekat dengan generasi muda. Hal tersebut disampaikan content creator asal Nusa Tenggara Timur, Desron I. Gusti Paut, dalam obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang, Selasa, 26 Mei 2026.

Desron yang juga dikenal dengan sapaan “Tua Adat” dikenal memiliki penampilan khas dengan penggunaan tenun, syal, dan sarung adat dalam aktivitas sehari-hari maupun kontennya di media sosial. Meski lebih banyak membuat konten hiburan dan komedi, Desron memanfaatkan ruang digital untuk memperkenalkan identitas budaya Nusa Tenggara Timur kepada masyarakat luas.

Dalam perbincangan tersebut, Desron menceritakan dirinya mulai terjun ke dunia konten kreatif sejak tahun 2018. Ia mengatakan penggunaan aksesoris budaya bukan sekadar pelengkap penampilan, tetapi sudah menjadi bagian dari identitas dan kesehariannya.

Menurut Desron, konten komedi juga dapat menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan budaya dengan cara yang lebih santai dan mudah diterima, khususnya oleh generasi muda.

“Budaya tidak harus selalu diperkenalkan dengan cara formal atau serius. Lewat konten hiburan juga orang bisa lebih dekat dengan identitas daerahnya,” ujarnya.

Dalam berbagai kontennya, Desron kerap menggunakan kain tenun dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur. Selain menjadi ciri khas penampilannya, penggunaan tenun tersebut juga menjadi cara memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.

“Kita harus berani beda dan punya sisi unik yang berbeda dari yang lain. Ketika saya memakai tenun dari berbagai daerah di NTT dalam setiap konten, orang bisa melihat bahwa NTT sangat kaya akan tenunan yang indah,” katanya.

Desron mengungkapkan kecintaannya terhadap tenun tidak terlepas dari sosok sang ibu yang merupakan seorang penenun. Berbagai karya tenun buatan ibunya kerap ia gunakan, tidak hanya saat membuat konten, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari, baik formal maupun nonformal.

Ia menilai penggunaan tenun dalam kehidupan sehari-hari tidak perlu dianggap kuno ataupun memalukan. Justru menurutnya, generasi muda perlu lebih percaya diri menggunakan produk budaya lokal sebagai bentuk kebanggaan terhadap identitas daerah.

“Jangan gengsi pakai tenun. Kalau bukan anak muda yang mulai memperkenalkan budaya sendiri, lalu siapa lagi,” ujarnya.

Desron juga menyoroti pentingnya regenerasi budaya tenun di kalangan generasi muda. Menurutnya, regenerasi tenun tidak akan berjalan apabila generasi penerus tidak mulai membiasakan diri menggunakan dan memperkenalkan tenun dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial.

“Regenerasi tenun tidak akan terjadi kalau anak-anak muda sebagai generasi penerus tidak mulai memperkenalkan tenun dalam keseharian mereka,” katanya lagi. Selain itu, Desron melihat saat ini semakin banyak modifikasi tenun yang tampil lebih modern tanpa meninggalkan filosofi dan makna budaya di balik tenun yang digunakan.

Ia menilai perkembangan tersebut menjadi peluang agar tenun semakin dekat dengan gaya hidup generasi muda masa kini. Desron berharap masyarakat yang melihat aksesoris tenun yang dikenakannya tertarik bertanya mengenai asal-usul maupun makna dari tenun tersebut, sehingga dirinya dapat sekaligus memperkenalkan karya sang ibu kepada publik.

Desron pun memiliki prinsip hidup “maju tanpa meninggalkan identitas.” Prinsip tersebut menjadi pegangan dirinya untuk terus berkembang dan mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri serta budaya yang telah melekat dalam kehidupannya. (TT)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....