Gubernur NTT Ajak Umat Jadikan Gereja St. Mikhael Bitefa Mercusuar Keluarga

  • 22 Sep 2026 15:13 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Misa Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa, Paroki Tunbaba, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Senin, 21 September 2026 malam, berlangsung dalam suasana penuh sukacita dan syukur. Momen tersebut terasa semakin istimewa karena dirangkaikan dengan Perayaan Syukur 19 Tahun Tahbisan Episkopat Uskup Atambua, Yang Mulia Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr.

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena turut hadir dan mengikuti seluruh rangkaian perayaan. Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam perjalanan panjang pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa.

“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan kontribusi nyata dalam mendorong proses pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa hingga tiba pada saat penahbisan hari ini,” ujar Gubernur Melki.

Bukan Sekadar Bangunan

Bagi Gubernur Melki, penahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa bukan sekadar peresmian sebuah bangunan. Di balik kokohnya bangunan gereja, terdapat perjalanan panjang umat yang dipenuhi doa, pengorbanan, gotong royong, keringat, air mata, kemurahan hati, iman, dan harapan.

Gubernur mengutip ungkapan Latin, “Non Lapidibus Tantum, Sed Fide Aedificatur Ecclesia,” yang berarti gereja tidak dibangun hanya dengan batu, tetapi dengan iman. “Karena itu, ketika kita memandang gereja ini, jangan hanya melihat kemegahan bangunannya,” ujarnya.

“Lihatlah di balik batu-batunya terdapat wajah orang-orang yang telah berjuang. Ingatlah tangan-tangan yang pernah bekerja dan kenanglah mereka yang telah memberikan apa yang mereka miliki,” katanya.

Menurutnya, setiap bagian dari Gereja St. Mikhael Bitefa menyimpan cerita tentang perjuangan umat dalam mempertahankan harapan hingga akhirnya gereja tersebut dapat berdiri dan ditahbiskan. Karena itu, Gubernur berharap pembangunan gereja tidak berhenti pada bangunan fisik.

Gereja St. Mikhael Bitefa diharapkan dapat menjadi rumah iman yang hidup sekaligus mengambil peran nyata dalam kehidupan masyarakat.

Dari Gereja untuk Kehidupan Masyarakat

Gubernur Melki berharap gereja tidak hanya menjadi tempat peribadatan dan pembinaan spiritual, tetapi juga menjadi mercusuar kehidupan masyarakat. Menurutnya, gereja dapat berkontribusi dalam memperkuat keluarga dan pendidikan melalui dukungan terhadap Program Jam Belajar Masyarakat, mendorong pengembangan ekonomi umat melalui One Village One Product (OVOP), serta turut membangun karakter, kerukunan, dan masa depan generasi muda.

“Gereja St. Mikhael Bitefa diharapkan menjadi rumah iman yang hidup, rumah persaudaraan, rumah pelayanan, sekaligus mercusuar yang memberikan arah dan harapan bagi masyarakat,” ujarnya tega.

Bupati TTU: Jangan Biarkan Gotong Royong Berhenti

Sementara itu, Bupati TTU Falentinus Kebo mengatakan, pentahbisan dan peresmian Gereja St. Mikhael Bitefa merupakan buah dari iman, pengorbanan, gotong royong, dan kesetiaan umat. Ia menyebut perjalanan pembangunan gereja tersebut tidak selalu mudah.

Pembangunan sempat mengalami berbagai tantangan bahkan terhenti selama beberapa tahun. Namun, semangat umat untuk menyelesaikan rumah ibadah tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Bupati menegaskan bahwa pembangunan kehidupan masyarakat bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Gereja, keluarga, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran penting untuk bergerak bersama.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten TTU terus berupaya memberikan perhatian terhadap kehidupan umat dan rumah-rumah ibadah sesuai kemampuan dan ketentuan yang berlaku. Bupati Falentinus juga mengajak umat St. Mikhael Bitefa menjadikan penahbisan gereja sebagai awal perjalanan iman yang baru.

Gereja, katanya, harus menjadi tempat tumbuhnya keluarga yang kuat dalam iman. Gereja juga jadi tempat bagi anak-anak yang mengenal Tuhan, generasi muda yang memiliki harapan, serta semangat untuk melayani dan peduli kepada sesama.

“Rawatlah gereja ini, tetapi lebih dari itu, rawatlah persaudaraan yang telah membuat gereja ini berdiri. Jangan biarkan semangat gotong royong berhenti setelah pembangunan selesai,” ujarnya.

Uskup Atambua: Saatnya Menghidupkan Gereja

Dalam kesempatan yang sama, Uskup Atambua Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr., menyampaikan syukur atas selesainya pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa. Uskup mengakui bahwa perjalanan pembangunan gereja tersebut tidak mudah dan sempat terhenti selama beberapa tahun.

Namun, selesainya pembangunan menjadi tanda bahwa harapan dan semangat umat akhirnya berbuah. Ia pun mengingatkan umat Stasi Bitefa agar tidak berhenti pada pembangunan fisik gereja, tetapi terus mempersiapkan diri dan membangun kehidupan menggereja.

Seiring dengan penahbisan gereja, administrasi Stasi Bitefa mulai ditata secara lebih mandiri. Pelayanan administrasi umat, termasuk surat permandian, ke depan tidak lagi bergabung dengan paroki induk.

Uskup juga mendorong umat untuk semakin aktif dalam berbagai kegiatan gerejani. Menurutnya, keaktifan umat merupakan bagian penting dalam membangun budaya iman yang semakin kuat.

“Terima kasih atas doa-doa umat Bitefa. Selamat berbahagia dan selamat berbakti dalam roh dan kebenaran,” ucap Uskup Dominikus Saku.

Menutup Perayaan dengan Syukur

Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan penandatanganan prasasti peresmian Gereja St. Mikhael Bitefa dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas 19 Tahun Tahbisan Episkopat Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr. Perayaan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten TTU, jajaran pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kabupaten TTU, pimpinan perangkat daerah terkait lingkup Pemerintah Provinsi NTT, Vikjen Keuskupan Atambua Pater Vinsen Wun, SVD, Romo Deken Kefamenanu, Pastor Paroki St. Andreas Tunbaba bersama para imam, biarawan dan biarawati, para donatur, panitia pembangunan, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh umat St. Mikhael Bitefa.

Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa akhirnya bukan hanya menjadi penanda selesainya sebuah pembangunan fisik. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah gereja akan benar-benar hidup ketika batu-batunya disatukan oleh iman, persaudaraan, gotong royong, dan pelayanan.

Dari Bitefa, pesan itu kembali ditegaskan: gereja bukan hanya rumah untuk berdoa, tetapi juga rumah untuk merawat persaudaraan, menumbuhkan harapan, dan bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik. (rls/at)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....