Akses Jalan Ditutup, Rumah Tenun Terbengkalai, Warga Harap Pemerintah Turun Tangan
- 29 Jun 2026 19:34 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Harapan masyarakat untuk menjadikan rumah tenun sebagai pusat pemberdayaan ekonomi kini nyaris tinggal kenangan. Bangunan yang didirikan pemerintah untuk mendukung aktivitas para penenun di Kabupaten Kupang itu kini terbengkalai setelah akses jalan menuju lokasi ditutup.
Kondisi tersebut disampaikan oleh salah seorang warga, Luther Baitano, saat di temui RRI.CO.ID, Senin 29 Juni 2026, yang menilai rumah tenun sejatinya dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para ibu yang menggantungkan hidup dari menenun. Menurut Luther, lahan tempat berdirinya rumah tenun merupakan tanah yang telah diserahkan kepada pemerintah agar dimanfaatkan sebagai fasilitas pemberdayaan masyarakat.
Setelah pembangunan selesai, pemerintah juga membuka akses jalan menuju lokasi sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan mudah. Namun, persoalan muncul ketika akses jalan tersebut tidak lagi dapat digunakan. Luther mengatakan jalan yang selama ini menjadi satu-satunya akses menuju rumah tenun akhirnya ditutup karena berkaitan dengan kepemilikan lahan di bagian depan bangunan.
Akibatnya, rumah tenun yang sebelumnya dipersiapkan sebagai tempat bekerja bagi masyarakat kini tidak lagi dimanfaatkan. Bangunan tersebut bahkan mulai mengalami kerusakan karena sudah lama tidak digunakan.
"Rumah tenun itu dibangun pemerintah supaya masyarakat bisa bekerja di situ. Tapi sekarang akses jalannya sudah ditutup sehingga rumah tenun tidak berfungsi lagi," ucap Luther, saat di wawancarai RRI.CO.ID, Senin 29 Juni 2026.
Ia mengaku prihatin melihat bangunan yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah tidak lagi memberi manfaat bagi masyarakat. Padahal, tujuan awal pembangunan rumah tenun adalah untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga melalui kerajinan tenun khas daerah.
Menurut Luther, hampir seluruh ibu rumah tangga di wilayah tersebut memiliki keterampilan menenun. Bahkan, pemerintah sebelumnya juga telah memberikan bantuan benang kepada para penenun sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan usaha tenun.
Sayangnya, tanpa adanya akses menuju rumah tenun, seluruh bantuan tersebut tidak lagi memberikan manfaat maksimal. Aktivitas produksi yang sebelumnya diharapkan berkembang akhirnya terhenti.
"Istri saya juga penenun. Di sekitar sini hampir semua ibu-ibu menenun. Kami berharap rumah tenun itu bisa digunakan lagi supaya masyarakat bisa bekerja dan memperoleh penghasilan," ucapnya
Luther berharap pemerintah tidak membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut. Menurutnya, penyelesaian persoalan akses jalan harus menjadi perhatian agar aset pemerintah yang telah dibangun tidak terus terbengkalai.
Ia juga berharap pemerintah dapat berkoordinasi dengan pemilik lahan dan seluruh pihak terkait untuk menemukan solusi terbaik sehingga akses menuju rumah tenun dapat dibuka kembali. Keberadaan rumah tenun dinilai sangat penting, tidak hanya sebagai tempat produksi kain tenun, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Selain menciptakan lapangan kerja, rumah tenun juga menjadi sarana melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Apabila akses jalan kembali tersedia, masyarakat optimistis aktivitas menenun dapat kembali berjalan.
Dengan demikian, rumah tenun dapat berfungsi sesuai tujuan awal pembangunannya, yakni menjadi pusat ekonomi kreatif berbasis budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan para penenun di Kabupaten Kupang. Masyarakat kini menaruh harapan besar kepada pemerintah agar persoalan akses jalan segera diselesaikan. (AI)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....