Pemuda NTT Adopsi Teknologi Gurun Israel untuk Irigasi di Lahan Kering
- 30 Sep 2026 19:30 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Tantangan iklim ekstrem dan kondisi tanah kering di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai bukan menjadi penghalang bagi kemajuan sektor pertanian. Pengalaman pengelolaan lahan di padang gurun Israel membuktikan bahwa keterbatasan sumber daya air dapat diatasi melalui efisiensi teknologi dan manajemen lahan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan oleh Community Organizer Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM), Martyn Radja Riwu, dalam Obrolan Akamsi di RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 29 September 2026.
Martyn, yang merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, membagikan pengalamannya saat mengikuti program magang pertanian di Kawasan Gurun Arafah, Israel, pada 2024 lalu.
"Di sana ada istilah 'mengubah gurun pasir menjadi lapangan hijau'. Kuncinya terletak pada manajemen air, penerapan irigasi tetes (drip irrigation), dan disiplin penggunaan bahan organik untuk menjaga kesuburan tanah secara konsisten," ujar Martyn saat diwawancarai.
Menurut Martyn, salah satu inovasi teknis yang paling relevan untuk diterapkan pada karakter pertanian lahan kering di NTT adalah sistem irigasi tetes. Metode ini menyalurkan air dan nutrisi tanaman secara langsung ke area perakaran dalam jumlah yang terkontrol, sehingga meminimalisir penguapan.
Selama beraktivitas di Israel pada komoditas bunga, terung, dan tomat, ia mengamati bagaimana pasokan air disalurkan secara efisien. Bahkan, seluruh kebutuhan air harian hingga sektor pertanian di kawasan tersebut bersumber dari proses desalinisasi air laut.
Selain aspek irigasi, Martyn menggarisbawahi pentingnya pengurangan ketergantungan para petani lokal terhadap pupuk dan obat-obatan kimia sintestis.
"Di NTT, penggunaan pupuk dan pestisida kimia masih sangat mendominasi. Sementara di luar negeri, mereka memprioritaskan pembenahan struktur tanah menggunakan bahan organik sejak awal masa tanam guna menjamin keberlanjutan lahan," jelasnya.
Sebagai langkah keberlanjutan dari pengembangan keterampilannya, Martyn terpilih menjadi salah satu dari 5 wakil NTT—serta bagian dari 50 peserta se-Indonesia—dalam program magang pertanian modern ke Taiwan yang difasilitasi oleh Kementerian Pertanian RI dan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP).
Dalam program yang dijadwalkan berangkat pada 9 November 2026 mendatang tersebut, Martyn berencana mendalami keunggulan genetika tanaman dan adaptasi varietas unggul terhadap perubahan iklim.
"Saya ingin mempelajari bagaimana varietas tanaman seperti cabai mampu beradaptasi dengan perubahan cuaca ekstrem tanpa mengalami penurunan produktivitas. Target saya adalah membawa serta menerapkan pengetahuan teknis ini untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di NTT," pungkas Martyn.
Melalui penerapan teknologi tepat guna seperti irigasi tetes dan pengolahan bahan organik secara terukur, sektor pertanian lahan kering di NTT diharapkan mampu meningkatkan taraf produktivitas dan mendukung ketahanan pangan daerah. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....