Riset Kampus Dinilai Perlu Diperkuat untuk Majukan Pertanian NTT

  • 15 Sep 2026 14:10 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pengembangan pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Timur membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, swasta, dan lembaga swadaya masyarakat. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar hasil penelitian dan inovasi kampus dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan petani.

Akademisi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Dr. Nikodemus P.P.E. Nainiti, STP., MP., mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan teknologi pertanian yang sesuai dengan kondisi NTT. “Perguruan tinggi tidak hanya melakukan penelitian, tetapi bagaimana hasil penelitian itu bisa sampai kepada masyarakat, khususnya petani,” ujarnya dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Selasa, 15 September 2026.

Menurut Dr. Niko, berbagai inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi perlu dikembangkan hingga tahap penerapan agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh petani. Ia menilai transfer pengetahuan dan teknologi menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.

“Teknologi yang kita hasilkan di kampus harus bisa diterapkan di lapangan, sehingga petani tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mendapatkan teknologi yang bisa mereka gunakan,” katanya. Pendampingan tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari proses produksi hingga pengelolaan hasil pertanian.

Di sisi lain, pemerintah dinilai memiliki peran sebagai fasilitator dalam mempertemukan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat dan petani. “Pemerintah sebagai fasilitator, kemudian perguruan tinggi memberikan teknologi dan pendampingan, sementara pihak swasta dan NGO juga bisa mengambil bagian,” katanya.

Ia menambahkan, kolaborasi tidak cukup dilakukan melalui kegiatan pelatihan yang berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi harus diarahkan sampai tahap implementasi dan hilirisasi. Menurutnya, pola tersebut dapat membantu petani menerapkan teknologi secara konsisten sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas yang dihasilkan.

Dr. Niko berharap sinergi berbagai pihak dapat memperkuat pengembangan pertanian lahan kering di NTT secara berkelanjutan. “Jadi bukan hanya selesai pada pelatihan, tetapi harus ada implementasi di lapangan dan pendampingan sampai petani benar-benar bisa menerapkannya,” ujarnya, menegaskan. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....