Praktik Tebas Bakar Disebut Memperbesar Kerusakan Tanah di NTT
- 24 Agt 2026 15:41 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Praktik tebas bakar yang masih dilakukan sebagian masyarakat dalam kegiatan pertanian dinilai dapat memperbesar kerusakan tanah apabila dilakukan tanpa pengelolaan yang tepat. Pembakaran lahan dapat menghilangkan organisme tanah dan bahan organik yang berperan penting dalam menjaga kesuburan serta kemampuan tanah menyimpan air.
Akademisi kehutanan Prof. Jeriels Matatula mengatakan, praktik tebas bakar telah lama dikenal dan diwariskan sebagai bagian dari budaya bertani masyarakat. Bagi sebagian petani, cara tersebut dianggap praktis karena dapat membersihkan lahan dalam waktu relatif singkat sebelum digunakan untuk bercocok tanam.
Namun, pembakaran vegetasi membawa konsekuensi terhadap kondisi tanah. Api dapat memusnahkan berbagai organisme yang hidup di dalam tanah, sementara bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan ikut berkurang.
Padahal, keberadaan bahan organik memiliki peran penting dalam mempertahankan struktur dan kesuburan tanah. Berkurangnya bahan organik juga dapat memengaruhi kemampuan tanah menahan air.
Tanah yang kehilangan bahan organik cenderung memiliki kemampuan lebih rendah dalam menyimpan air hujan, sehingga air lebih mudah menjadi aliran permukaan dan bergerak menuju wilayah yang lebih rendah. Kondisi tersebut menjadi semakin penting bagi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki karakter iklim semiarid dengan periode musim kering yang panjang.
Kemampuan tanah menyimpan air selama musim hujan menjadi salah satu faktor penting untuk membantu tanaman dan masyarakat menghadapi kekurangan air pada musim kemarau. Selain mengurangi kemampuan tanah menyimpan air, hilangnya tutupan vegetasi akibat pembakaran juga dapat meningkatkan risiko erosi.
Ketika permukaan tanah terbuka, air hujan dapat mengalir lebih cepat dan membawa lapisan tanah bagian atas yang kaya unsur hara. Jika berlangsung berulang, proses tersebut berpotensi menurunkan produktivitas lahan.
Petani kemudian dapat menghadapi kebutuhan untuk mengolah lahan lebih luas atau menggunakan input tambahan guna mempertahankan hasil pertanian. Prof. Jeriels menekankan pentingnya melihat praktik pertanian secara menyeluruh dengan mempertimbangkan hubungan antara vegetasi, tanah, dan air.
Budaya bertani yang telah diwariskan masyarakat tetap memiliki nilai penting, tetapi pengelolaannya perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan konservasi tanah. Alternatif pengelolaan lahan yang mempertahankan bahan organik dan tutupan tanah dapat menjadi pilihan untuk mengurangi dampak kerusakan.
Sisa tanaman, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik atau penutup tanah sehingga tidak seluruhnya dibakar. Pendekatan tersebut juga dapat membantu meningkatkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air.
Dengan demikian, air hujan yang turun selama musim penghujan tidak seluruhnya berubah menjadi limpasan, tetapi sebagian dapat dimanfaatkan untuk mengisi cadangan air di dalam tanah. Bagi NTT, menjaga kualitas tanah merupakan bagian penting dari menghadapi tantangan kekeringan.
Tanah yang sehat dan memiliki kandungan bahan organik yang cukup akan lebih mampu mendukung pertanian sekaligus mempertahankan air di tengah panjangnya musim kering. Karena itu, pengelolaan praktik tebas bakar perlu dilakukan dengan pendekatan yang mempertimbangkan aspek budaya, kebutuhan petani, dan keberlanjutan lingkungan.
Upaya mempertahankan kesuburan tanah dan kemampuan menyimpan air menjadi kunci agar lahan pertanian tetap produktif dalam jangka panjang. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....