Menjaga Masa Depan Kopi NTT Lewat Regenerasi Petani Muda
- 12 Agt 2026 12:01 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di balik popularitas kopi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kian menanjak, industri komoditas unggulan ini rupanya menyimpan tantangan serius di tingkat hulu. Penurunan angka produksi akibat penuaan pohon kopi serta minimnya minat anak muda untuk menjadi petani kopi mengancam keberlanjutan industri kopi NTT di masa depan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Penanggung Jawab Partnership & Sponsorship Komunitas Kopi NTT, Kevin Sena, dalam siaran Obrolan Akamsi Pro 4 RRI Kupang bertajuk "Kopi NTT Naik Kelas" pada Selasa , 11 Agusutus 2026.
Kevin membeberkan fakta lapangan di daerah penghasil kopi seperti Bajawa, di mana angka produksi tahunan terus menurun dan durasi musim panen terasa semakin singkat.
"Kopi memiliki usia produktif optimal hingga 20 tahun. Faktanya di lapangan, mayoritas pohon kopi di Bajawa usianya sudah melebihi batas produktif tersebut. Hal inilah yang membuat produktivitasnya menurun tajam," ujar Kevin.
Menurutnya, pembenahan di tingkat hulu seperti peremajaan tanaman (replanting) dan edukasi perawatan kebun sudah sangat mendesak agar angka produksi bisa kembali meningkat.
Selain faktor penuaan tanaman, isu regenerasi menjadi alarm merah bagi ekosistem kopi NTT. Saat ini, para pengolah kopi di tingkat kebun (processor) mayoritas didominasi oleh generasi tua, sementara minat generasi muda untuk terjun langsung ke perkebunan masih sangat rendah.
Kevin menjelaskan bahwa sebagian besar anak muda hanya tertarik pada profesi di hilir, seperti menjadi barista. Padahal, kualitas dan pembentukan karakter rasa kopi paling besar ditentukan saat masih berada di perkebunan.
"Kualitas rasa kopi itu 60 persen ditentukan oleh pengolahan di perkebunan (processor), 30 persen oleh pemanggangan (roastery), dan 10 persen oleh barista. Kami ingin mengedukasi generasi muda bahwa berkebun kopi dan menjadi processor itu keren dan punya nilai ekonomi yang sangat tinggi," katanya.
Menanggapi kondisi ini, Komunitas Kopi NTT aktif bergerak merangkul anak muda melalui berbagai program edukatif dan inklusif. Pembina Komunitas Kopi NTT, Anthon Djawas, menyebutkan bahwa edukasi dan penciptaan ruang diskusi menjadi kunci utama menarik atensi generasi Z dan milenial.
Komunitas ini rutin mengadakan kegiatan seperti Brew Temu (diskusi mingguan), Brew Bagi (pembagian kopi gratis di Car Free Day), hingga kompetisi cupping dan latte art (Brew Tarung).
"Harapan utama kami adalah terciptanya regenerasi yang berkelanjutan. Pengetahuan tentang kopi harus terus diturunkan ke anak-anak muda, dan kesejahteraan dari hulu ke hilir—mulai dari petani, processor, roaster, hingga barista—harus terjamin," ucap Anthon.
Anthon menambahkan, untuk menyelamatkan hulu industri kopi NTT, diperlukan kolaborasi erat antara komunitas, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan guna memfasilitasi tiga kebutuhan mendesak petani: Edukasi, Akses Modal, dan Akses Pasar. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....