Perempuan Berperan Penting dalam Pengelolaan Air dan Pertanian

  • 17 Mar 2026 13:08 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Air memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia, mulai dari produksi pangan, kesehatan, mata pencaharian hingga menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, akses terhadap sumber daya air serta hak untuk mengelolanya masih belum merata, terutama bagi perempuan dan anak perempuan di daerah pedesaan.

Food and Agriculture Organization (FAO) menilai perempuan sering menghadapi hambatan lebih besar dalam mengakses, mengendalikan, dan memanfaatkan sumber daya air. Padahal, di banyak wilayah pedesaan, perempuan dan anak perempuan justru memegang peran penting dalam produksi pertanian dan pengelolaan air, baik untuk irigasi, peternakan, perikanan, maupun kebutuhan rumah tangga.

Meski memiliki peran penting, perempuan sering kali memiliki kendali yang lebih kecil atas sumber daya seperti air dan tanah. Mereka juga kerap tidak dilibatkan dalam proses tata kelola air atau pengambilan keputusan, misalnya dalam asosiasi pengguna air atau komite pengelola air lokal.

Kondisi ini biasanya terjadi karena perempuan tidak diakui sebagai pemilik tanah formal atau kepala rumah tangga. Ketimpangan tersebut berdampak langsung pada kondisi sosial dan ekonomi.

Data tahun 2023 menurut FAO, menunjukkan bahwa perempuan rata-rata memperoleh pendapatan sekitar 18,4 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki dalam pekerjaan upah di sektor pertanian. Kesenjangan ini mencerminkan keterbatasan akses perempuan terhadap sumber daya, layanan, dan peluang ekonomi.

Perubahan iklim juga memperparah situasi tersebut. Ketika air menjadi semakin langka, tercemar, atau tidak dapat diandalkan, perempuan biasanya harus menempuh waktu lebih lama untuk mengumpulkan air, dan kondisi ini tidak hanya mengurangi produktivitas pertanian, tetapi juga berdampak pada penurunan pendapatan keluarga.

FAO menegaskan bahwa mendorong kesetaraan gender dalam pengelolaan air pertanian bukan hanya persoalan hak, tetapi juga peluang penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan keamanan air secara global. Ketika perempuan memiliki akses yang aman terhadap air dan lahan serta dapat berpartisipasi secara aktif dalam pengambilan keputusan, rumah tangga dan komunitas menjadi lebih tangguh.

Akses terhadap irigasi, pembiayaan, layanan, dan pengetahuan juga dapat membantu petani perempuan meningkatkan produktivitas serta memperkuat mata pencaharian mereka. Tata kelola air yang inklusif dinilai mampu menghasilkan pengelolaan sumber daya air yang lebih adil dan berkelanjutan.

Pesan ini semakin relevan pada tahun 2026 yang dideklarasikan sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan, sebagai bentuk pengakuan atas peran penting perempuan dalam sistem pangan dan pertanian di seluruh dunia. Dalam rangka peringatan Hari Air Sedunia 2026, FAO juga menyoroti berbagai langkah nyata untuk mendorong kesetaraan gender dalam pengelolaan air dan pertanian, salah satunya adalah mendukung Dialog Global tentang Kepemilikan Air, yang bertujuan mengakui kebutuhan dan prioritas perempuan dalam pengelolaan sumber daya air serta mengatasi praktik pengecualian mereka dari proses pengambilan keputusan.

FAO juga mendorong perluasan akses perempuan terhadap sistem irigasi, yang terbukti dapat meningkatkan produksi pertanian sekaligus memperkuat mata pencaharian masyarakat. Selain itu, organisasi tersebut mengintegrasikan perspektif kesetaraan gender dan inklusi sosial dalam perencanaan pengelolaan kekeringan serta pengembangan kebijakan air.

Upaya lainnya dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital dan data penginderaan jauh dalam pengelolaan air pertanian yang dirancang agar tidak memperkuat ketimpangan yang sudah ada. Program berbasis komunitas seperti Klub Dimitra juga membantu perempuan, laki-laki, dan generasi muda bekerja bersama mengidentifikasi tantangan serta mencari solusi pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

FAO menilai peringatan Hari Air Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran global mengenai keterkaitan antara air dan kesetaraan gender. Melalui kolaborasi berbagai pihak, diharapkan pengelolaan air yang lebih inklusif dapat tercapai sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan di masa depan. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....