Pemetaan Kekeringan Kabupaten Kupang Jadi Dasar Mitigasi

  • 21 Agt 2026 15:05 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kabupaten Kupang mendorong pemetaan wilayah rawan kekeringan sebagai dasar menentukan langkah mitigasi dan penanganan dampak kekeringan. Ketua Forum PRB Kabupaten Kupang, Elfrid Veisel Saneh, dalam Wawancara Kupang Pagi di pro 1 RRI Kupang mengatakan pemetaan dilakukan dengan melihat data BMKG, kajian risiko bencana, serta indikator hari tanpa hujan di masing-masing wilayah.

Berdasarkan pemantauan BMKG Dasarian I Agustus 2026, dari 24 kecamatan di Kabupaten Kupang, hanya Amfoang Utara dan Amfoang Timur yang masih mencatat hujan di atas 10 milimeter. Sementara 22 kecamatan lainnya mengalami curah hujan di bawah 10 milimeter. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya risiko kekeringan di wilayah Kabupaten Kupang.

Dua wilayah yang saat ini menjadi perhatian khusus adalah Amfoang Selatan dan Amfoang Barat. Elfrid menyebut, berdasarkan pengamatan hari tanpa hujan, wilayah Lelogama di Amfoang Selatan telah mengalami 82 hari tanpa hujan, sedangkan Amfoang Barat mencapai 72 hari. Data hari tanpa hujan menjadi indikator penting dalam menentukan wilayah yang masuk kategori ekstrem dan membutuhkan intervensi.

Pemetaan juga perlu mempertimbangkan kondisi ketersediaan air di wilayah Kabupaten Kupang. Menurut Elfrid, berkurangnya debit air paling terasa di wilayah dengan ketinggian lebih dari 50 meter di atas permukaan laut yang mencakup sekitar 90 hingga 95 persen wilayah Kabupaten Kupang. Sementara di wilayah yang lebih rendah, sebagian sungai masih memiliki aliran dan masih dimanfaatkan masyarakat untuk pertanian.

Dari sisi upaya penanganan, Forum PRB bersama BPBD mendorong kesiapsiagaan dan respons darurat, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Distribusi atau dropping air bersih menjadi salah satu langkah jangka pendek, disertai penguatan sistem peringatan dini dan penyebaran informasi iklim kepada petani serta peternak. Penyesuaian masa tanam dan penggunaan komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan juga diperlukan untuk mengurangi risiko gagal panen.

Untuk jangka menengah, upaya diarahkan pada pengurangan ketergantungan terhadap dropping air melalui pembangunan infrastruktur air dan gerakan tanam serta panen air. Sementara dalam jangka panjang, strategi mencakup konservasi daerah tangkapan air, penghijauan, perlindungan kawasan hutan, serta optimalisasi infrastruktur seperti Bendungan Raknamo, Manikin, dan Tilong. Forum PRB juga mendorong agar pengurangan risiko kekeringan terintegrasi dalam perencanaan pembangunan daerah dan tata ruang Kabupaten Kupang.

Elfrid menegaskan, pemetaan harus diikuti koordinasi antarlembaga dan keterlibatan masyarakat agar penanganan tidak hanya dilakukan ketika kekeringan sudah berdampak. Pemerintah desa dan kelompok masyarakat diharapkan menjadi bagian penting dalam pengelolaan air, sementara edukasi hemat air perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan pemetaan wilayah rawan yang lebih terukur, intervensi air bersih, pertanian, peternakan, dan infrastruktur dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....