Rehabilitasi 176 Hektare Lahan di TTS Berhasil Memunculkan 57 Mata Air
- 21 Agt 2026 14:57 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Program rehabilitasi hutan dan lahan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), disebut memberikan dampak positif terhadap pemulihan lingkungan dan ketersediaan air. Dalam kurun waktu 7 tahun, sejak 2019 hingga 2026, rehabilitasi yang dilakukan pada lahan seluas 176 hektare disebut telah meningkatkan tutupan vegetasi sekaligus memunculkan 57 mata air.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTT, Sulastri H.I. Rasyid, dalam Dialog Kupang Menyapa bertajuk Hari Hutan Sedunia: Merawat Hutan, Menguatkan NTT Melawan Kekeringan, Kamis 6 Agustus 2026. Sulastri mengatakan, capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pemulihan tutupan lahan memiliki hubungan erat dengan ketersediaan air, terutama di wilayah NTT yang menghadapi persoalan kekeringan.
“Efek yang paling dahsyat adalah dari 176 hektare itu sudah menimbulkan 57 mata air,” kata Sulastri dalam dialog tersebut.
Menurut dia, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya terlihat dari semakin rapatnya tutupan lahan. Program tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Masyarakat dapat memanfaatkan tanaman sela di antara pohon-pohon yang ditanam dalam program rehabilitasi. Dari tanaman sela tersebut, masyarakat disebut mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta setiap minggu.
Sulastri menilai, model rehabilitasi seperti yang dilakukan di TTS dapat dikembangkan di kabupaten lain di NTT. Dengan semakin luasnya tutupan lahan, kemampuan lingkungan dalam menyimpan air diharapkan turut meningkat.
“Kalau kita duplikasikan ke seluruh kabupaten yang ada di provinsi ini melakukan hal yang sama, saya yakin NTT tidak akan kekurangan air,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian hutan. Mereka tidak hanya berperan menjaga kawasan, tetapi juga harus memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan hutan.
Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan BPDAS Benain Noelmina, Bayu Adrian Victorino, menjelaskan bahwa tutupan vegetasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketersediaan air. Menurut Bayu, hutan memiliki fungsi menampung dan menyimpan air hujan melalui proses infiltrasi.
Air yang tersimpan di dalam tanah kemudian dapat dilepaskan secara perlahan dan membantu menjaga ketersediaan air pada musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi semakin penting di NTT karena karakter daerah aliran sungai (DAS) di wilayah kepulauan menyebabkan jarak antara wilayah hulu dan hilir relatif pendek.
Ketika tutupan lahan tidak memadai, air hujan akan lebih cepat menjadi aliran permukaan dan mengalir menuju laut. Akibatnya, lebih sedikit air yang masuk dan tersimpan di dalam tanah.
Akademisi kehutanan, Prof. Dr. Ir. Jeriels Matatula, M.Hut., M.Sc., mengatakan keberadaan vegetasi, tanah, dan air merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Ia menjelaskan, vegetasi membantu membentuk porositas tanah melalui sistem perakaran.
Kondisi tersebut memungkinkan air hujan lebih mudah masuk ke dalam tanah sehingga meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air. Sebaliknya, ketika vegetasi hilang dan tanah terbuka, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan. Kondisi itu dapat meningkatkan erosi dan mengurangi kemampuan tanah menyimpan air.
Karena itu, rehabilitasi lahan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Program rehabilitasi 176 hektare di TTS yang disebut telah memunculkan 57 mata air menjadi contoh bahwa pemulihan tutupan lahan dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat.
Keberhasilan tersebut juga menunjukkan bahwa upaya menghadapi kekeringan di NTT tidak hanya bergantung pada penyediaan air saat musim kemarau, tetapi juga pada kemampuan menjaga hutan, tanah, daerah resapan, dan kawasan sumber mata air sejak musim hujan. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....