Hutan dan Ketersediaan Air di NTT Memiliki Hubungan Sangat Erat

  • 21 Agt 2026 14:56 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kondisi hutan dan tutupan lahan memiliki hubungan yang sangat erat dengan ketersediaan air di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hutan tidak hanya berfungsi sebagai penyangga ekosistem, tetapi juga berperan penting dalam menyimpan air hujan yang dibutuhkan masyarakat, terutama saat musim kemarau.

Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan BPDAS Benain Noelmina, Bayu Adrian Victorino, menjelaskan bahwa keberadaan hutan membantu menampung dan menyimpan air hujan melalui proses infiltrasi. Air yang masuk ke dalam tanah kemudian dapat dilepaskan secara perlahan sehingga membantu mempertahankan ketersediaan air ketika musim kemarau.

“Hutan itu berfungsi untuk menampung, untuk menyimpan infiltrasi air hujan untuk kemudian dilepaskannya nanti terutama pada musim kemarau,” kata Bayu dalam Dialog Kupang Menyapa bertajuk Hari Hutan Sedunia: Merawat Hutan, Menguatkan NTT Melawan Kekeringan, Kamis 6 Agustus 2026.

Menurut Bayu, hubungan antara hutan dan air tidak dapat dilepaskan dari kondisi tanah di masing-masing wilayah. Karakteristik tanah di NTT berbeda-beda sehingga kemampuan menyerap dan menyimpan air juga tidak sama antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Selain kondisi tanah, karakter daerah aliran sungai (DAS) di NTT turut memengaruhi bagaimana air hujan bergerak. Sebagai provinsi kepulauan, banyak DAS di NTT memiliki jarak yang relatif pendek antara wilayah hulu dan hilir.

Kondisi tersebut membuat air hujan yang turun di wilayah hulu dapat mengalir dengan cepat menuju hilir. Ketika tutupan lahan tidak tersedia dengan baik, air hujan lebih banyak menjadi aliran permukaan dan akhirnya terbuang ke laut.

“Apalagi bila tutupan lahannya tidak tersedia dengan baik. Sehingga lebih banyak air yang terbuang ke laut dibanding yang terserap ke tanah,” katanya.

Bayu menegaskan, menjaga tutupan vegetasi menjadi salah satu langkah penting untuk mempertahankan ketersediaan air secara berkelanjutan. Tutupan vegetasi membantu air hujan masuk ke dalam tanah dan mengurangi derasnya aliran permukaan.

Hal senada disampaikan akademisi kehutanan Prof. Dr. Ir. Jeriels Matatula, M.Hut., M.Sc. Menurutnya, vegetasi, tanah, dan air merupakan tiga komponen yang saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Keberadaan pohon membantu membentuk porositas tanah melalui sistem perakaran. Saat hujan turun, air tidak seluruhnya langsung mengalir di permukaan, tetapi sebagian dapat masuk melalui pori-pori tanah dan tersimpan sebagai air tanah.

Sebaliknya, ketika vegetasi berkurang dan tanah terbuka, air hujan lebih mudah mengalir di permukaan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan erosi sekaligus mengurangi kemampuan tanah dalam menyimpan air.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting bagi NTT yang secara alami memiliki iklim semiarid dengan periode musim kering yang panjang. Prof. Jeriels menjelaskan, masyarakat NTT sejak lama telah beradaptasi dengan pola iklim sekitar empat bulan hujan dan delapan bulan panas.

Namun, tekanan terhadap lingkungan, hilangnya vegetasi, berkurangnya daerah resapan, serta meningkatnya kebutuhan akibat pertumbuhan penduduk dapat memperbesar risiko kekeringan. Ia mencontohkan sejumlah kawasan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air, termasuk di Kota Kupang, telah mengalami perubahan fungsi.

Hilangnya vegetasi di kawasan tersebut dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan dan pada akhirnya berdampak terhadap ketersediaan air tanah. Karena itu, menjaga hutan dan daerah resapan tidak hanya penting untuk mencegah banjir dan erosi ketika musim hujan, tetapi juga menjadi investasi untuk memastikan air tetap tersedia ketika musim kemarau.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTT, Sulastri H.I. Rasyid, mengatakan pemerintah terus mendorong rehabilitasi hutan dan lahan serta kehutanan sosial dengan melibatkan masyarakat. Menurut Sulastri, semakin baik tutupan lahan, semakin besar pula peluang air hujan tersimpan di dalam tanah.

Ia mencontohkan program rehabilitasi di Timor Tengah Selatan (TTS) seluas 176 hektare selama 2019–2026 yang disebut telah memunculkan 57 mata air. Capaian tersebut dinilai menunjukkan bahwa pemulihan tutupan lahan dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Dengan demikian, upaya menjaga ketersediaan air di NTT tidak cukup hanya dilakukan ketika kekeringan melanda. Perlindungan hutan, rehabilitasi lahan kritis, pemulihan daerah resapan, dan peningkatan tutupan vegetasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar air hujan dapat disimpan di dalam tanah dan dimanfaatkan secara perlahan saat musim kemarau. (DW)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....