Wabup Kupang Dorong Percepatan Penurunan Stunting di Desa
- 11 Mar 2026 14:07 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang - Wakil Bupati Kupang Aurum Titu Eki melakukan kunjungan kerja ke Desa Toobaun dan Desa Nunkurus pada 9–10 Maret 2026 guna mempercepat upaya penurunan angka stunting di wilayah tersebut. Kunjungan ini merupakan bagian dari program Pemerintah Kabupaten Kupang untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus mengevaluasi pelaksanaan berbagai intervensi penanganan stunting di tingkat desa.
Dalam kunjungannya di Desa Toobaun, Wabup Aurum meninjau langsung kegiatan posyandu yang menjadi pusat pelayanan kesehatan bagi balita dan ibu hamil. Ia juga berdialog dengan tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta para orang tua guna mengetahui berbagai kendala dan kebutuhan yang dihadapi di lapangan.
Menurutnya, Desa Toobaun menjadi salah satu wilayah prioritas dalam program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kupang. “Desa Toobaun merupakan salah satu wilayah yang menjadi prioritas dalam program penurunan stunting. Kita berkomitmen untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses yang layak terhadap gizi, kesehatan, dan perawatan agar dapat tumbuh kembang optimal,” ujar Aurum.
Ia menjelaskan bahwa angka stunting di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten Kupang, dari tahun ke tahun menunjukkan grafik yang naik turun. Berbagai intervensi telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan, puskesmas, serta instansi vertikal seperti BKKBN bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan organisasi non-pemerintah.
Menurut Aurum, berbagai temuan di lapangan menunjukkan bahwa salah satu faktor utama penyebab stunting adalah pola asuh dalam keluarga. “Ada beberapa alasan yang berbeda tapi semua pada akhirnya merujuk kepada pola asuh orang tua terhadap anak itu sendiri, yang artinya stunting ini semuanya bermula dari dalam rumah tangga sendiri ” katanya.
Sementara itu, dalam kunjungan kerja di Desa Nunkurus, Aurum menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam upaya menurunkan angka stunting. Ia mengingatkan bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab sosial masyarakat.
“Ada tanggung jawab kita secara sosial untuk saling mengingatkan, ini harus tetap jalan, saling mengingatkan sama-sama lain, ini hal yang mudah, tidak perlu terlalu seperti apa, sekadar duduk, pas ada bertamu tinggal saling mengingatkan saja, itu bisa,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan kepada jajaran pemerintah, baik dari puskesmas maupun perangkat daerah terkait, agar tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan semata. Menurutnya, bantuan harus dibarengi dengan edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan kepada masyarakat.
“Kita boleh kasih bantuan dalam bentuk ini, itu, ini, itu, tetapi tanggung jawab kita juga untuk menyampaikan hal yang baik, untuk bisa berubah pola pikir masyarakat, itu yang paling penting!. Kita jangan berpikir jadi pemimpin, itu yang mampu mensejahterakan, dengan cara memberikan bantuan, bantuan, bantuan, tetapi kalau kita tidak membantu untuk bagaimana kita masyarakat bisa berubah pola pikirnya, menurut saya itu bukan pemimpin yang bijak, ini menjadi tanggung jawab sosial, bagaimana kita bisa berubah pemahaman dari masyarakat, itu yang paling utama,” kata Aurum.
Dalam kesempatan tersebut, pemerintah juga menyerahkan bantuan berupa paket makanan tambahan dan alat kesehatan pendukung bagi keluarga dengan risiko stunting. Selain itu, disepakati pembentukan tim pendamping khusus untuk Desa Toobaun yang akan membantu mengoptimalkan pelaksanaan berbagai program, seperti pemberian suplementasi gizi, penyuluhan pola makan sehat, serta pemantauan pertumbuhan anak secara berkala.
Penjabat Kepala Desa Toobaun, Yusmina Batmaro, mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama tingginya angka stunting di desanya adalah masih kurangnya kepedulian sebagian orang tua terhadap perkembangan anak. “Di desa Toobaun ada orang tua yang bilang kami tidak datang karena tidak butuh bantuan pemerintah, Kita makan juga sama saja, sehingga tidak mau mengantarkan anak ke posyandu untuk dicek perkembangannya setiap bulan. Dan harapan saya orang tua yang memiliki anak dengan gizi buruk dapat meningkatkan perhatian terhadap pertumbuhan anak,” ujarnya.
Kunjungan kerja ini turut diikuti oleh perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pertanian, para kepala desa se-Kecamatan Amarasi Barat, serta tokoh agama dan masyarakat. Sementara itu, kunjungan di Desa Nunkurus juga dihadiri Sekretaris Dinas Kesehatan Imelda Sudarmadji, Sekretaris Camat Kupang Timur Yahya Letmani, Kepala Puskesmas Naibonat Anak Agung Ayu Swandewi, serta Kepala Desa Nunkurus Ardyzed Nalle. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....