42 Lokasi Irigasi di NTT Siap Dibangun pada 2026, BBWS Dorong Ketahanan Pangan
- 27 Jul 2026 15:25 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II menyiapkan pembangunan jaringan irigasi di 42 lokasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah lolos verifikasi pada tahap pertama tahun 2026. Program tersebut merupakan bagian dari percepatan pembangunan irigasi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengantisipasi ancaman kekeringan yang diprediksi semakin meningkat.
Pelaksana Harian Kepala BBWS Nusa Tenggara II, Davianto Frangky B. Welkis mengatakan, pembangunan tersebut merupakan kelanjutan dari program percepatan irigasi yang telah dimulai sejak diberlakukannya Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan rehabilitasi, pembangunan, operasi, dan pemeliharaan jaringan irigasi. Menurutnya, program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam mendukung swasembada pangan di daerah.
"Sejak 2025 telah kami laksanakan, kurang lebih ada 19 titik lokasi yang tersebar di NTT. Di tahap pertama itu kurang lebih ada sekitar 42 lokasi yang sudah terverifikasi dan akan dialokasikan anggarannya untuk pelaksanaannya," ujar Frangky dalam program Wawancara Kupang Pagi Ini, Jumat, 24 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pemerintah masih membuka kesempatan bagi seluruh pemerintah kabupaten, kota, maupun Pemerintah Provinsi NTT untuk mengajukan lokasi pembangunan pada tahap berikutnya. Seluruh usulan harus disampaikan melalui Sistem Informasi Usulan Pembangunan Irigasi (Sipuri) dengan melengkapi persyaratan teknis sebelum diverifikasi oleh pemerintah pusat.
"Seluruh daerah di NTT, seluruh kabupaten, kota maupun provinsi, diharapkan bisa mengambil kesempatan ini mengusulkan melalui Sistem Informasi Usulan Pembangunan Irigasi dengan mempersiapkan readiness criteria yang kemudian diverifikasi oleh balai dan Kementerian Pekerjaan Umum," katanya.
Frangky menuturkan, manfaat pembangunan jaringan irigasi mulai dirasakan masyarakat. Salah satu contohnya berada di Kota Kupang, di mana petani kini memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan saat musim kemarau sehingga aktivitas pertanian tidak lagi sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
"Di Kota Kupang, petani yang kami lihat cukup senang karena tidak terbatas sumber daya air. Saat musim hujan tentu ada hujan, tetapi pada musim kemarau mereka bisa memanfaatkan sumber bor yang sudah ada untuk melaksanakan kegiatan pertanian," ucapnya.
Ia berharap, seluruh infrastruktur irigasi yang dibangun pemerintah dapat dimanfaatkan secara maksimal dan dijaga oleh masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam menggunakan air secara bijaksana serta merawat fasilitas yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. (DB)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....