Sinergi Liposos dan Relawan Perkuat Penanganan Kelompok Rentan di Jember

  • 22 Sep 2026 10:35 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Penanganan kelompok rentan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Keterbatasan sumber daya manusia di lembaga pelayanan sosial membuat keberadaan relawan menjadi salah satu unsur penting dalam merespons persoalan kemanusiaan di lapangan.

Ben Sromben merupakan komunitas relawan yang bergerak dalam kegiatan sosial. Penanganannya mencakup berbagai persoalan masyarakat, antara lain SAR, kecelakaan air, hingga penanganan orang dengan gangguan kejiwaan.

“Komunitas Ben Sromben itu aslinya pandalungan. Ya kerjaannya ya sosial. Kayak SAR, laka air, ODGJ. Yang ada di masalah di masyarakat, kita siap menangani kalau kita siap. Bisa membantu,” kata Arief Cahyono sebagai relawan dari komunitas Ben Sromben dalam program Obrolan Komunitas (OBRAS) Pro 1 Jember, Kamis, 6 Agustus 2026.

Dari berbagai kegiatan tersebut, penanganan ODGJ menjadi salah satu tantangan yang cukup berat bagi Arief dan para relawan. Menurutnya, tidak semua orang terbiasa berhadapan langsung dengan ODGJ sehingga masih ada rasa takut ketika harus melakukan penanganan.

“Kalau saya sendiri, masalah di ODGJ. Saya sering melakukan penanganan di ODGJ, sama dibantu sama Pak Roni,” ujarnya.

Karena itu, kerja sama antara relawan dan UPTD Liposos menjadi penting. Kepala UPTD Liposos Dinas Sosial PPPA Kabupaten Jember, Roni Efendi, S.STP. menyebut keterbatasan jumlah petugas membuat pihaknya membutuhkan dukungan relawan untuk menangani laporan masyarakat yang datang pada berbagai waktu.

“Ya kalau di UPTD Liposos ini mau tidak mau kita membutuhkan tenaga mereka, relawan. Apalagi kita di UPTD Liposos keterbatasan SDM petugas kita,” jelas Roni.

Dengan sekitar 50 klien dan 14 petugas, pelayanan Liposos berlangsung selama 24 jam. Ketika ada laporan masyarakat pada siang, sore, maupun malam hari, relawan dapat dilibatkan untuk membantu penanganan di lapangan.

Roni menyebut relawan Ben Sromben selama ini menjadi salah satu pihak yang aktif mendukung penanganan tersebut. Bahkan, menurutnya, sudah terdapat personel relawan di masing-masing kecamatan sehingga laporan dapat lebih cepat direspons.

“Kita mau enggak mau menggandeng mereka untuk sama-sama terjun ke lapangan. Dan alhamdulillah selama ini ada relawan dari Ben Sromben yang selalu solid, yang selalu kompak mendukung kegiatannya kita,” kata Roni.

Selain Ben Sromben, penanganan persoalan sosial juga melibatkan berbagai unsur lain, termasuk Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan atau TKSK dan Taruna Siaga Bencana atau Tagana.

“Mereka sama-sama bersinergi, kolaborasi bagaimana upayanya agar supaya permasalahan yang ada di lapangan ini segera selesai,” lanjutnya.

Bagi Arief, keterlibatan sebagai relawan juga tidak dibatasi oleh waktu. Ia mengaku cukup sering menerima panggilan untuk membantu penanganan pada jam-jam ketika sebagian masyarakat sedang beristirahat.

“Sering. Bukan pernah, sering,” ujar Arief ketika ditanya mengenai pernah mendapat panggilan penanganan pada tengah malam atau tidak.

Ia bahkan menyebut panggilan tersebut justru menjadi bagian dari dorongan untuk membantu sesama.

“Malah saya kalau kasih tugas malah saya malah tambah senang. Alhamdulillah. Wis itu namanya wis panggilan hati kita untuk membantu. Berangkat saya,” katanya.

Sementara itu, Roni menjelaskan bahwa kondisi di lapangan memang tidak mengenal waktu. Persoalan yang berkaitan dengan ODGJ maupun lansia dapat muncul kapan saja sehingga pelayanan tidak dapat dibatasi hanya pada jam kerja.

Di Liposos sendiri, penanganan klien dilakukan dengan menyesuaikan kondisi masing-masing. Roni menyebut terdapat dua shelter yang digunakan untuk memisahkan klien ODGJ dan lansia. Selain itu, tersedia ruang isolasi bagi ODGJ dengan kondisi yang masih membutuhkan observasi khusus.

Menurutnya, gesekan antarklien juga dapat terjadi dalam proses pelayanan. Namun, petugas berupaya segera menghentikan konflik dan memberikan penanganan sesuai kondisi masing-masing.

Sinergi antara petugas Liposos dan relawan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan sosial tidak hanya bergantung pada satu pihak. Keterbatasan sumber daya dapat diatasi melalui koordinasi dan kolaborasi, sehingga masyarakat yang membutuhkan pertolongan tetap dapat memperoleh respons ketika persoalan muncul di lapangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....