Kemacetan Ketapang-Gilimanuk Picu Tarif Logistik ke Bali Naik

  • 15 Sep 2026 14:00 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Banyuwangi – Kemacetan di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk mulai berdampak pada biaya distribusi barang menuju Bali. Sopir angkutan logistik kini menaikkan tarif perjalanan karena waktu tempuh yang semakin lama dinilai menambah beban operasional dan risiko kerugian.

Ketua Persatuan Sopir Logistik Indonesia (PSLI), Slamet Barokah, mengatakan kenaikan tarif terjadi pada sejumlah rute logistik tujuan Bali. Penyesuaian tarif dilakukan agar biaya perjalanan tetap sebanding dengan kondisi di lapangan yang kerap diwarnai antrean panjang.

Untuk rute Jakarta-Bali, tarif angkutan naik dari Rp13 juta menjadi Rp14 juta dalam sekali perjalanan. Sementara rute Surabaya-Bali juga mengalami kenaikan dari Rp4 juta menjadi Rp5 juta untuk sekali jalan.

“Kalau tidak harga itu, sopir malas dan menolak jalan. Karena risiko macet yang dihadapi. Makanya sopir menarik tarif lebih,” kata Slamet, Selasa 15 September 2026.

Slamet menjelaskan sebagian besar sopir logistik menerima upah secara borongan yang sudah mencakup seluruh pendapatan selama perjalanan. Akibat kemacetan, mereka harus menanggung tambahan biaya operasional sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu setiap kali terjebak antrean.

“Setidaknya Rp200 ribu-Rp300 ribu dalam sekali macet. Itu yang membuat sopir merasa dirugikan karena macet,” ujarnya.

Selain biaya operasional, kemacetan juga meningkatkan risiko kerusakan pada barang yang diangkut, terutama logistik yang memiliki masa simpan terbatas. Waktu pengiriman yang lebih panjang dinilai dapat memengaruhi kualitas barang hingga menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha.

PSLI meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kemacetan di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Menurut Slamet, persoalan utama bukan terletak pada jumlah kapal, melainkan keterbatasan infrastruktur penunjang di pelabuhan.

Ia menilai penambahan dermaga menjadi kebutuhan mendesak karena jumlah kendaraan yang menyeberang terus meningkat setiap tahun. Dengan kapasitas pelabuhan yang lebih besar, arus logistik menuju Bali diharapkan kembali lancar dan biaya distribusi dapat ditekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....