FKUB Bondowoso Tanamkan Moderasi Beragama Sejak SMP
- 10 Sep 2026 13:48 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bondowoso menanamkan nilai moderasi beragama kepada pelajar SMP dan MTs melalui kegiatan pembinaan di SMA Negeri 2 Bondowoso, Kamis, 10 September 2026.
Kegiatan tersebut ditujukan untuk membekali generasi muda agar mampu memahami perbedaan agama, suku, dan ras serta mencegah potensi konflik di tengah masyarakat.
Ketua FKUB Bondowoso, Mas'ud Ali, mengatakan pembinaan bagi pelajar tingkat SLTP menjadi salah satu agenda FKUB tahun ini. Sebelumnya, FKUB telah menggelar kemah moderasi yang menyasar pelajar tingkat SLTA.
"Tahun ini ada dua kegiatan. Yang pertama adalah pembinaan moderasi beragama untuk siswa-siswi di tingkat SLTP, karena kemarin FKUB sudah mengadakan kemah moderasi untuk tingkat SLTA," kata Mas'ud Ali.
Menurutnya, SMA Negeri 2 Bondowoso dipilih sebagai lokasi kegiatan karena sekolah tersebut sebelumnya telah memberikan dukungan terhadap kegiatan moderasi yang digelar FKUB.
"Kami coba tawarkan ke beliau, akhirnya bersedia untuk ditempatkan di SMA 2," ujarnya.
Mas'ud menjelaskan, pembinaan tersebut menekankan pentingnya memahami perbedaan agar tidak menjadi pemicu pertengkaran maupun konflik. Hal itu dinilai penting karena masyarakat Bondowoso memiliki keberagaman agama, suku, dan ras.
"Yang berbeda secara agama itu kan banyak, jadi ada lima agama yang menjadi kepercayaan mereka. Kalau hal ini tidak dirawat secara baik, perbedaan itu boleh jadi Bondowoso akan menjadi wilayah-wilayah konflik sebagaimana daerah-daerah lain," ungkapnya.
FKUB, kata Mas'ud, terus mendorong generasi muda untuk tidak menonjolkan perbedaan keyakinan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya, mereka diajak duduk bersama dan membangun kepedulian terhadap kepentingan bersama.
"Kita penting mengajak mereka untuk duduk bersama, berpikir untuk kemajuan bersama dan semacamnya. Soal keyakinan itu kan soal individu yang tidak boleh dibawa ke ranah publik," tuturnya.
Ia menilai pelajar menjadi kelompok strategis untuk diberikan pemahaman moderasi sejak dini. Terlebih, mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial yang memungkinkan interaksi lintas kelompok berlangsung sangat cepat.
"Kalau tidak dibekali dengan pemahaman keagamaan yang utuh, mereka bisa berkonflik, bersentuhan satu dengan yang lain dengan konflik. Itu sebetulnya yang menjadi tujuan kenapa kita menyasar anak-anak SMP dan MTs," jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, FKUB membatasi peserta sebanyak 60 siswa. Mereka diharapkan tidak hanya menerima materi, tetapi juga menjadi penggerak nilai-nilai toleransi di lingkungan sekolah masing-masing.
"Kami berpesan kepada peserta agar menjadi duta di sekolahnya masing-masing, duta toleransi. Kalau di SMA sudah ada kader moderasi, setelah kita berkegiatan kemah moderasi kita deklarasi. Kalau tingkat SMP tidak sampai pada kemah moderasi, baru bersifat pembinaan dan penanaman nilai-nilai moderasi," kata Mas'ud.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Bondowoso, Kholifah Nur Azizah, menyambut baik pelaksanaan pembinaan moderasi beragama tersebut. Menurutnya, SMA Negeri 2 Bondowoso memiliki lingkungan sekolah yang sangat beragam karena terdapat siswa dengan lima agama.
"Kita menyambut baik dan kita bangga kegiatan menyiapkan generasi harmoni dilakukan di SMA 2 karena memang di sini kan sekolah moderasi beragama. Ada lima agama, satu-satunya SMA yang ada lima agama," ujar Kholifah.
Keberagaman tersebut, lanjut Kholifah, juga diterapkan dalam aktivitas keagamaan di sekolah. Saat siswa muslim melaksanakan Salat Duha dan membaca Surah Yasin pada Jumat, siswa nonmuslim diberikan ruang untuk menjalankan aktivitas keagamaan sesuai keyakinannya.
"Supaya tidak termarginalkan, yang nonmuslim itu juga membaca kitab suci. Itu kita siapkan di sana, di ruang literasi. Saya kumpulkan pengajar agama nonmuslim dan kita panggil dulu," jelasnya.
| Baca juga: Kapolres Cek Gereja, Paskah Dipastikan Aman |
Kholifah mengatakan, sekolah juga memberikan ruang bagi siswa untuk memperingati hari-hari besar agama nonmuslim. Langkah tersebut telah dilakukan selama bertahun-tahun sebagai bagian dari budaya keagamaan sekolah yang tetap menjunjung toleransi.
Ia menegaskan, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun kerukunan, bukan alasan untuk saling menjauh.
"Kita itu meskipun berbeda kan harus tetap satu. Negara kita itu dibentuk dengan perbedaan itu. Berbeda ras, berbeda agama, berbeda suku, tetapi kita itu tetap harus satu sebagai bagian dari keyakinan negeri ini," ungkapnya.
Nilai kerukunan juga terus ditanamkan melalui berbagai pesan di lingkungan sekolah. Sejumlah kutipan mengenai hidup rukun, menghormati sesama, dan pembentukan akhlak dipasang di ruang kelas maupun koridor sekolah.
"Visi kita itu menjadikan generasi yang berakhlak mulia unggul. Salah satu indikator berakhlak mulia itu tahu bagaimana berakhlak pada temannya, tahu bagaimana berakhlak dengan gurunya, tahu bagaimana berakhlak berlalu lintas. Itu kita tanamkan betul ke anak-anak," tutur Kholifah.
Ia berharap kegiatan FKUB tersebut tidak berhenti pada pembinaan, tetapi dilanjutkan dengan kegiatan yang membuat siswa mampu menyampaikan kembali nilai-nilai moderasi di lingkungannya.
Menurut Kholifah, salah satu bentuk tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah forum diskusi kelompok (FGD) serta pembuatan karya tulis. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat menyampaikan pengalaman, persoalan yang mereka lihat di sekolah maupun masyarakat, serta gagasan untuk membangun kehidupan yang harmonis.
"Suruh buat karya tulis. Jadi RTL dari kegiatan ini karya jurnalistik. Apa yang dia rasakan, apa yang dia lihat, apa harapannya untuk negeri ini akan harmoni," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....