Petugas Gabungan Monitoring di SPBU, Dampak Antrian Panjang

  • 09 Sep 2026 12:32 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Lumajang- Tim gabungan Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama Polres Lumajang melakukan monitoring ketersediaan dan antrean Bahan Bakar Minyak di sejumlah SPBU dan SPBKB pada Selasa malam, 8 September 2026 pukul 22.00 WIB hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 02.35 WIB.

Kegiatan dipimpin Sekretaris Daerah Lumajang Drs. Agus Triyono, M.Si, dengan melibatkan 3 anggota Intelkam Polres Lumajang dan 1 personel Bagian Perekonomian dan SDA Setda. Tujuannya memastikan pasokan BBM, memantau antrean masyarakat, serta mengantisipasi potensi gangguan distribusi.

"Hasil monitoring menunjukkan ketersediaan BBM secara umum masih tersedia. Namun distribusinya tidak merata di seluruh wilayah," Katanya Rabu 09 September 2026

Total stok yang tercatat dari SPBU dan SPBKB yang dimonitor mencapai sekitar 447.463 liter. Angka ini belum mencakup seluruh SPBU di Lumajang karena monitoring hanya dilakukan di titik-titik tertentu.

Beberapa SPBU dilaporkan mengalami kekosongan jenis BBM tertentu:

  • SPBU No. 54.673.06 Kedungjajang: Pertalite dan Bio Solar habis
  • SPBU No. 54.673.08 Randuagung: Pertalite kosong
  • SPBU No. 54.673.01 Pasirian: Pertalite dan Bio Solar kosong

Sementara itu, sejumlah SPBU lain masih memiliki stok cukup. Di Kecamatan Sukodono, SPBU No. 54.673.02 mencatat stok Pertalite 25.000 liter dan Pertamax 11.000 liter. SPBU No. 54.673.04 Kedungjajang juga masih memiliki Pertalite 30.031 liter.

Antrean Panjang Terjadi di 3 Kecamatan, terutama di Kecamatan Lumajang, Sukodono, dan Pasirian. Kondisi masih kategori normal dan SPBU 24 jam umumnya masih mampu melayani.

Titik paling menonjol ada di SPBU No. 54.673.01 Pasirian, saat monitoring, stok Bio Solar dan Pertalite sudah kosong. Sekitar 50 unit dump truck terlihat mengantre menunggu kedatangan Bio Solar. Distribusi 16 ton Solar dan 8 ton Pertalite dilaporkan masih dalam perjalanan.

Di SPBU No. 53.673.17 Pasirian yang tutup pukul 21.00 WIB, terdapat sekitar 12 truk yang sudah menunggu pembukaan.

Antrean juga terpantau panjang namun normal di SPBU No. 54.673.05 dan No. 54.673.13 di Kecamatan Lumajang, serta SPBU No. 54.673.02 dan No. 54.673.12 di Sukodono.

Tim menilai Bio Solar dan Pertalite menjadi komoditas paling berpotensi menimbulkan antrean. Tingginya jumlah kendaraan angkutan di Pasirian menunjukkan kebutuhan besar dari sektor logistik dan barang.

"Kekosongan Pertalite bersifat lokal di beberapa titik, belum menunjukkan kekosongan secara menyeluruh di Kabupaten Lumajang," Katanya

Laporan juga mencatat sejumlah rencana pengiriman pada 9 September 2026. Di antaranya Bio Solar 16 KL dan Pertalite 16 KL ke beberapa SPBU yang stoknya menipis. Sebagian statusnya masih "belum berangkat" atau "dalam perjalanan".

Pada kesempatan terpisah salah satu aktivis di Lumajang Madiono, menyesalkan adanya kesulitam warga dalam membeli BBM terutama pertalit harus melakukan antrian panjang sehingga aktifitas tergangu.

"Kami disejumlah SPBU masih antri panjang dan di SPBU Banjarwaru sekitar pukul 9 tanggal 09 masih kosong demikian juga SPBU di JLT Lumajang,"Jelasnya

Tim memprediksi antrean masih berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan, terutama di SPBU tujuan kendaraan angkutan. Pasirian disebut sebagai titik paling rawan apabila pengiriman Solar 16 ton terlambat.

Apabila distribusi terlambat secara bersamaan di beberapa SPBU, risikonya meliputi peningkatan panjang antrean, perpindahan konsumen ke SPBU lain, penumpukan kendaraan angkutan, dan munculnya persepsi kelangkaan di masyarakat.

Untuk itu, tim merekomendasikan 10 langkah, antara lain:

  1. Monitoring intensif khusus SPBU yang kosong Pertalite dan Bio Solar
  2. Prioritas pemantauan SPBU Pasirian karena 50 dump truck menunggu Solar
  3. Koordinasi dengan Pertamina/penyalur untuk memastikan realisasi pengiriman ke Pasirian dan titik lain
  4. Pemantauan stok berkala pagi dan sore/malam di SPBU antrean tinggi
  5. Pemetaan SPBU alternatif yang stoknya masih cukup
  6. Sosialisasi jam operasional agar SPBU yang tutup pukul 21.00 tidak disalahartikan sebagai kelangkaan

Agus Triono juga menyampaikan, secara umum BBM di Lumajang belum mengalami kelangkaan menyeluruh. Namun beberapa titik perlu perhatian khusus karena kekosongan dan antrean panjang.

"Kecepatan dan ketepatan realisasi distribusi pada 9 September 2026 menjadi faktor penting untuk mencegah peningkatan antrean dan meluasnya kekosongan BBM," tutupnya

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....