BPBD Jember Pantau 812 KK di Tiga Kecamatan Terdampak Kekeringan

  • 14 Agt 2026 16:36 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember terus memantau potensi kekeringan di sejumlah wilayah. Ini menyusul mulai menurunnya debit air pada beberapa sumber dan sumur warga.

Pemantauan dilakukan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana atau TRC-PB BPBD Jember di enam lokasi yang tersebar di Kecamatan Tempurejo, Mayang, dan Patrang.

Berdasarkan hasil pemetaan, terdapat sekitar 812 kepala keluarga yang berpotensi terdampak kekeringan di tiga kecamatan tersebut. Namun, hingga saat ini sebagian besar wilayah masih memiliki ketersediaan air yang mencukupi.

Anggota TRC BPBD Jember, Naringga Manggala Putra, mengatakan asesmen dilakukan dengan mengecek kondisi sumur dan sumber mata air sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa maupun kelurahan.

“Tim melakukan asesmen, berkoordinasi dengan perangkat desa dan kelurahan, serta mengecek sumber mata air dan sumur warga untuk mengetahui kondisi ketersediaan air,” katanya, Kamis (13/8/2026).

Di Dusun Mandigu, Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, misalnya, sekitar 46 dari 70 KK berpotensi terdampak. Sejumlah sumur warga ditemukan memiliki air berbau besi, keruh, berwarna kuning, dan berminyak.

Meski demikian, kebutuhan air bersih warga masih dapat dipenuhi dari sumur lain yang kondisinya lebih baik.

Sementara di Dusun Sumberejo, Desa Pondokrejo, sekitar 70 KK berpotensi terdampak karena debit sumur mulai menurun. Namun, air masih dapat digunakan karena belum mengalami perubahan warna maupun bau.

Di Dusun Rowo, Desa Mrawan, Kecamatan Mayang, terdapat 239 KK yang masuk pemantauan. Sedangkan di Kecamatan Patrang, pemantauan dilakukan di empat wilayah dengan total 387 KK berpotensi terdampak.

BPBD memastikan kondisi di wilayah-wilayah tersebut masih terkendali dan belum ditemukan warga yang mengalami kekurangan air bersih.

Naringga mengatakan BPBD akan melakukan pemantauan ulang dalam 20 hingga 30 hari mendatang.

“Untuk saat ini kondisi masih aman dan terkendali. Kami tetap melakukan pemantauan agar apabila terjadi perubahan kondisi bisa segera ditangani,” ujarnya.

Pemerintah desa dan kelurahan juga diminta segera melaporkan apabila debit air terus menurun hingga mulai mengganggu kebutuhan warga.

BPBD Jember menegaskan pemantauan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar potensi kekeringan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi krisis air bersih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....