UNEJ Dampingi Sekolah Negeri yang Kehilangan Peminat lewat Inovasi Pembelajaran
- 14 Agt 2026 19:46 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Upaya membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri yang kehilangan peminat dilakukan melalui pendampingan guru dan penguatan inovasi pembelajaran.
Hal itu dilakukan tim dosen Universitas Jember melalui program Dosen Mengabdi di Desa Asal atau Prosendi di SDN Temenggungan, Banyuwangi.
Sekolah tersebut sebelumnya sempat tidak mendapatkan satu pun murid baru pada tahun ajaran 2023/2024.
Kondisi itu mendorong tim pengabdian yang dipimpin dosen Pendidikan Biologi FKIP UNEJ, Slamet Hariyadi, untuk memperkuat kapasitas guru sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pendampingan berlangsung selama enam bulan, Januari hingga Juni 2025, dengan melibatkan kepala sekolah, enam guru, 45 siswa, serta sekitar 30 orang tua.
“Saya berharap sekolah ini, walaupun memiliki sarpras yang kurang standar, muridnya tidak memenuhi kuota, tapi jangan sampai kualitasnya rendah, sudah jatuh tertimpa tangga,” ujar Slamet, Jumat (14/8/2026).
Tim menggunakan pendekatan Participatory Action Research, sehingga guru dilibatkan sejak tahap pemetaan persoalan, penyusunan solusi, penerapan hingga evaluasi pembelajaran.
Salah satu fokusnya adalah penerapan Deep Learning dalam konteks pedagogis, yang mendorong siswa berpikir kritis, bekerja sama, memahami konsep, dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Guru juga dikenalkan dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI sebagai alat bantu pembelajaran.
Hasil evaluasi menunjukkan kemampuan guru dalam memahami konsep Deep Learning meningkat dari 35 menjadi 80 persen.
Kemampuan menyusun pembelajaran berbasis pendekatan tersebut naik dari 25 menjadi 75 persen, sementara kemampuan menggunakan AI dalam pembelajaran meningkat dari 20 menjadi 65 persen.
Pendampingan juga berdampak pada persepsi masyarakat. Survei menunjukkan pandangan orang tua bahwa SDN Temenggungan memberikan pendidikan berkualitas meningkat dari 30 menjadi 75 persen.
Kesediaan mendaftarkan anak ke sekolah tersebut juga meningkat dari 10 menjadi 70 persen. Pada tahun ajaran berikutnya, sekolah yang sebelumnya tidak memperoleh pendaftar tercatat menerima tujuh siswa baru.
Siswa juga mulai menorehkan prestasi nonakademik, di antaranya juara harapan pertama Pesta Pramuka Siaga dan juara kedua Lampon Parade.
Slamet menilai kebangkitan sekolah kecil tidak cukup hanya diukur dari jumlah murid. Penguatan kualitas guru, ruang bagi siswa mengembangkan potensi, serta dukungan orang tua dan masyarakat menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pendidikan.
“Anak-anak itu kalau diberi jempol sama gurunya saja sudah senang, apalagi bisa mendapatkan trofi. Itu validasi bagi mereka agar tidak merasa minder walaupun di sekolah yang kecil,” ujarnya.
Hasil kegiatan pengabdian tersebut kemudian dipublikasikan dalam Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 7 Nomor 4 Tahun 2025.
Tim UNEJ berharap model pendampingan serupa dapat dikembangkan untuk membantu sekolah lain yang menghadapi persoalan rendahnya minat masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....