Pojhièn, Syair Tradisi Temukan Jalan ke Generasi Muda

  • 12 Agt 2026 01:48 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso : Di tengah derasnya perubahan zaman, suara syair dan ritme kesenian tradisional Pojhièn masih terdengar dari masyarakat Bondowoso.

Bukan sekadar pertunjukan, Pojhièn menjadi ruang tempat masyarakat merawat ingatan, nilai spiritual, kebersamaan, dan solidaritas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagi Kepala Desa Sukorejo, Sumarni, upaya tersebut menjadi penting karena Pojhièn tidak hanya berbicara tentang seni.

“ Pojhièn juga mendapat ruang dalam kegiatan Desa Budaya di Kecamatan Klabang pada 30 Juli 2026 lalu yang diselenggarakan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bondowoso “ ujar Sumarni Selasa 11 Agustus 2026.

Namun, keberlangsungan kesenian tradisional ini menghadapi tantangan. Pengetahuan tentang syair, ritme, struktur pertunjukan hingga etika dalam pementasan selama ini masih banyak bergantung pada maestro dan pelaku seni senior. Sementara itu, keterlibatan generasi muda sebagai penerus masih terbatas.

Kondisi inilah yang mendorong dosen Universitas Jember dan Politeknik Negeri Jember untuk ikut bergerak. Melalui pendanaan Program Inovasi Seni Nusantara atau PISN Tahun 2026, tim yang diketuai Ni Luh Ayu Sukmawati, S.Pd., M.Hum., bersama Ghanesya Hari Murti, S.S., M.Hum., Mushthofa Kamal, S.Par., M.Par., dan Fina Zahra, S.Sn., M.A., mengembangkan program bertajuk “Penguatan Regenerasi Seniman Muda melalui Syair dan Arsip Digital Pojhièn di Kawasan Geopark Ijen, Bondowoso sebagai Pelestarian Warisan Budaya.”

Program ini merupakan keberlanjutan dari kegiatan yang telah dilakukan pada 2025. Bersama komunitas seni Pojhièn di Bondowoso dan didukung mahasiswa, program diarahkan bukan hanya untuk mempertahankan pertunjukan Pojhièn, tetapi juga memastikan pengetahuan di balik kesenian tersebut memiliki penerus.

Tahap awal dilakukan pada Juni hingga Juli 2026.

Sosialisasi digelar bersama maestro, pelaku seni, pemerintah desa, dan masyarakat. Dari proses tersebut, tim memetakan potensi generasi muda yang dapat menjadi kader penerus Pojhièn.

Mereka kemudian mengikuti pelatihan secara partisipatif. Para maestro dan pelaku senior mengajarkan syair, ritme, struktur pertunjukan, hingga tata laku budaya Pojhièn. Generasi muda tidak hanya belajar menjadi pemain, tetapi juga diajak mengenal cara menjaga pengetahuan budaya melalui teknologi.

Mereka dilatih melakukan perekaman suara, mengambil gambar, mencatat syair, hingga mengelola arsip digital. Dengan pendekatan tersebut, generasi muda diposisikan bukan hanya sebagai penonton atau pelaku pertunjukan, tetapi juga sebagai penjaga pengetahuan budaya.

Upaya itu kemudian berlanjut melalui kegiatan field recording dan pagelaran Pojhièn di Dusun Panggung dan Klabang, Bondowoso, pada 28 hingga 31 Juli 2026. Tim melakukan perekaman, transkripsi, dan penerjemahan syair-syair Pojhièn untuk selanjutnya menjadi bagian dari arsip digital.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Sukorejo serta Komunitas Pojhièn Unik Dusun Panggung yang dipimpin Ahmat.

Pagelaran tersebut dihadiri Bupati Bondowoso Dr. H. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., Wakil Bupati Bondowoso H. As’ad Yahya Syafi’i, S.E., Camat Klabang Denny Indra Pratama, S.E., M.M., serta Kepala Desa Karanganyar Riwanto Evendie.

Kehadiran pemerintah daerah memperlihatkan bahwa pelestarian kesenian tradisional membutuhkan ruang yang lebih luas bukan hanya di lingkungan komunitas, tetapi juga dalam agenda kebudayaan daerah. Di sisi lain, digitalisasi menjadi bagian penting dari strategi pelestarian.

Audio, video, transkripsi syair, serta informasi mengenai fungsi dan konteks setiap syair akan dihimpun dalam arsip digital.Ketika suatu saat maestro dan pelaku senior tidak lagi mampu meneruskan pengetahuan secara langsung, generasi berikutnya tetap memiliki sumber untuk belajar.

Sebab, melestarikan budaya bukan berarti hanya menjaga pertunjukannya tetap berlangsung.

Lebih jauh dari itu, pelestarian berarti memastikan pengetahuan, nilai, dan cerita yang ada di balik sebuah tradisi tetap dapat dipahami dan diwariskan.

Pojhièn kini berhadapan dengan tantangan zaman.

Namun, melalui regenerasi seniman muda dan pemanfaatan teknologi digital, tradisi tersebut mendapatkan jalan baru untuk terus hidup.

Dari syair yang diwariskan secara lisan, menuju arsip digital. Dari maestro kepada generasi muda.

Dan dari satu panggung ke panggung berikutnya, Pojhièn diharapkan tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Bondowoso—bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai tradisi yang terus dipelajari, dimainkan, dan diwariskan di masa depan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....