Perhutani Bondowoso Siaga Hadapi Ancaman Kemarau Panjang, Waspada Karhutla
- 07 Agt 2026 21:24 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso menggelar simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bersama warga sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Sebanyak 48 personel Perhutani Bondowoso-Situbondo bersama warga dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dilibatkan dalam simulasi tersebut. Mereka mempraktikkan pemadaman api menggunakan alat sederhana berupa gepyok serta mesin pemadam portabel (blower).
Simulasi dibuat menyerupai kondisi nyata. Skenario diawali dengan seorang warga yang membakar ubi pohon lalu meninggalkan api. Tiupan angin kemudian membuat kobaran api cepat menjalar hingga memicu kebakaran hutan.
Administratur (ADM) Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, mengatakan simulasi tersebut merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi ancaman kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino.
"Kami secara internal mengadakan apel siaga Karhutla," ujar Munir saat dikonfirmasi, Jumat 7 Agustus 2026.
Menurutnya, suhu udara yang tinggi, minimnya curah hujan, kelangkaan air, serta banyaknya guguran daun kering menjadi faktor yang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, Perhutani telah memetakan titik-titik rawan Karhutla dan mendirikan Posko Bencana Alam di setiap Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH), yakni BKPH Bondowoso, Sukosari, Wonosari, Klabang, Prajekan, Penarukan, dan Besuki. Sementara wilayah Ijen bergabung dengan BKPH Sukosari.
"Total ada 8 posko, untuk wilayah Ijen bergabung dengan Sukosari,"tegasnya.
Munir mengungkapkan, selama awal musim kemarau beberapa bulan terakhir telah terjadi sejumlah insiden kebakaran di kawasan hutan Perhutani. Kebakaran terbesar terjadi di kawasan Arak-arak, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, dengan luas area terdampak mencapai empat hektare.
| Baca juga: Petugas TNBTS Antisipasi Kebakaran Hutan |
Sementara itu, titik-titik kebakaran lainnya rata-rata membakar lahan seluas 0,4 hingga 0,5 hektare. Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, terutama karena terjadi di kawasan Hutan Produksi yang didominasi tanaman pinus.
" [Kebakaran di Arak-arak] terjadi hampir setiap tahun. Rata-rata area yang paling sering terbakar memang Hutan Produksi,"jelas Munir.
Berdasarkan hasil pengamatan Perhutani, sebagian besar kebakaran hutan pada musim kemarau dipicu oleh kelalaian manusia. Di antaranya puntung rokok yang dibuang sembarangan di pinggir jalan, pembakaran serasah untuk membersihkan lahan yang ditinggalkan tanpa pengawasan, hingga api unggun milik pemburu di kawasan rimba pinus yang tidak dipadamkan secara sempurna.
"Ada juga pemburu di daerah rimba pinus yang membuat perapian atau api unggun lalu lupa memadamkannya secara sempurna,"tuturnya.
Sebagai langkah pencegahan, Perhutani mengintensifkan patroli dan memperkuat kerja sama dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk memantau kawasan hutan. Menurut Munir, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan ketika muncul titik api.
"Masyarakat sangat kooperatif. Begitu melihat ada titik api, mereka langsung mengabari kami dan warga sekitar," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....